Followers

Wednesday, 31 July 2013

Syiah, Pelopor Ajaran Rasisme dan Narsisme


SYIAH menurut bahasa Arab bermakna ‘pembela dan pengikut seseorang’ atau ‘setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara’ (Azhari ‘Tahdzzibul Lughah’, III/61;  Azzabidi ‘Tajul Arus’, V/405). Ada pun menurut terminologi syariat dapat diartikan, ‘Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau ( Ibnu Hazm, ‘Al-Fishal fil Milal wal Ahwa wan Nihal’, II/113).
Dalam sejarahnya, Syiah mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu, Kaisaniyah, Imamiyah (Rafidhah), Zaidiyah, Ghulat, dan Isma’iliyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya (Asy-Syarastani, Al-Milal wan Nihal’, hal. 147).
Namun yang penting untuk diangkat adalah sekte Imamiyah atau lebih tepatnya Rafidhah, yang sejak dahulu hingga sekarang berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara tentunya, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannnya yang didukung oleh negara Iran-nya.
Pencetus utama paham  Syiah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.
Rafidhah secara etimologi bermakna, ‘meninggalkan’, (Al-Qamus Al-Muhith, hal.829). Sedangkan dalam terminologi syariat adalah ‘Mereka yang menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma, berlepas dari keduanya, dan mencela lagi menghina para sahabat Nabi saw (Abdullah Al-Jumaili, ‘Badzul Majhud fi Itsbati Musyabbahatir Rafidhah lil Yahud’, I/85).
Sebutan ‘Rafidhah’ erat kaitannya dengan Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan pada tahun 121 H, (Badzul Majhud, I/86).
Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, “Aku bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar ra.” (Ibnu Taimiyah, ‘Ash-Sharimul al-Maslul ‘Ala Syatimirrasul, hal. 567).
Abu Hasan Al-Asy’ari berkata, “Zaid bin Ali adalah seorang yang melebihkan Ali bin Abi Thalib atas seluruh sahabat Rasululllah saw, mencintai Abu Bakar dan Umar dan memandang bolehnya memberontak terhadap para pemimpin yang jahat.  Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya ia mendengar dari sebahagian mereka celaan terhadap Abu Bakar dan Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka, ‘kalian tinggalkan aku [Rafadhtumuniy]?’ maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan ‘Rafidhah’ dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka [Rafadhtumuniy]”, (Maqalatul Islamiyyin, I/137; Majmu’ul Fatawa, 13/36). Rafidah pasti Syiah, namun belum tentu Syiah itu Rafidhah karena tidak semua Syiah menolak ‘rafadha’ kepemimpinan dan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ra.
Alquran, Imamah, Sahabat, dan Taqiyah
Dalam kitab ‘Al-Kafi’ –yang kedudukannya di sisi mereka seperti ‘Sahihul Bukhari’ di sisi Ahlussunnah—karya  Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (II/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata, “Sesungguhnya Alquran yang dibawa Jibril kepada Muhammad [ada] 17.000 ayat.” Dalam juz I, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata, “… Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu. Abu bashir berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdullah) berkata, ‘Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Alquran kalian…’.” (Ihsan Ilahi Dzahir ‘Asy-Syiah wal Qur’an’, hal. 31-32).
Bahkan salah seorang ahli hadis mereka yang bernama Husain Bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari pada imam mereka yang ma’shum –bersih dari segala jenis dosa—di dalam kitabnya ‘Fashlul Khitab fil Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab’   yang menjelaskan bahwa Alquran yang ada telah mengalami perubahan dan penyimpangan.
Kecuali itu, masalah Imamah atau kepemimpinan umat juga menjadi persoalan dasar bagi kaum Syiah hingga memasukkan dalam rukun Islam. Sebagaimana diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam ‘Al-Kafi II/18’ dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata, “Islam di bangun di atas lima perkara… salat, zakat, haji, shaum, dan wilayah [imamah]…” Zurarah berkata, “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata, “Yang paling utama adalah wilayah.” (Badzul Majhud, I/174).
Imamah menurut mereka adalah hak milik ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya sesuai dengan wasiat Rasulullah saw. Ada pun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakar, Umar, dan yang sesudah mereka hingga ke hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah perempas kekuasaan. (al-Kkhuthuth Ak Aridhah, hal. 15-17). Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ma’shum dapat mengetahui hal-hal ghaib. Khomeini berkata, “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai Ali bin Abi Thalib hingga sang penyelamat umat manusia, Imam al-Mahdi, sang penguasa zaman –baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam—yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup pada saat ini seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5 dan Firaq Mu’ashirah, I/192).
Ada pun pandangan Rafidhah tentang para sahabat Rasulullah saw, dapat ditelusuri dari sumber-sumber rujukan utama kaum Syiah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh wat Ta’dil mereka ‘Al-Kisysyi’ di dalam kitabnya, ‘Rijalul Kisysyi, hal. 12-13’ dari Abu Ja’far Muhammad (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata, “Manusia [para sahabat] sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman al-Farisi…” lalu menyebutkan surah Ali Imran ayat 44, (Asy-Syi’ah Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah fi Mizanil Islam, hal. 89).
Ada pun Abu Bakar dan Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah dalam pandangan Ahlussunnah, mereka cela dan laknat, bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka ‘Miftahul Jinan, hal. 114’ wirid laknat untuk keduanya. “Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy [Abu Bakar dan Umar], setan dan thaghut keduanya, serta putri mereka [Aisyah dan Hafshah]”, (As-Sayyed Muhibuddin al-Khatib ‘Al-Khuthuth Al-‘Aridhah’, hal. 18).
Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umat bin Khattab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” alias seorang pemberani pembela agama, kini kuburan Abu Lu’lu dibangun dengan megahnya. Hari kematian Umar dijadikan sebagai ‘Iedul Akbar’, hari kebanggaan, hari kemuliaan, dan kesucian, serta hari berkah dan suka ria, (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17).
Ada pun  ‘Aisyah dan para istri Rasulullah saw lainnya, mereka yakini sebagai palacur sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka ‘Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal, hal. 57-60’ karya Ath-Thusi, dengan menukilkan –secara dusta—perkataan sahabat, Abdullah bin Abbas terhadap Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan palacur yang ditinggalkan Rasulullah…” (Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, ‘Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mu’minin, hal. 11).
Selain itu, Syiah juga melegitimasi ajaran ‘taqiyah’ alias bohong, taqiyah berarti berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia (Firaq Muashirah, I/195; Asy-Syiah al-Itsna ‘Asyariah, hal. 80). Mereka berkeyakinan bahwa taqiyah adalah bagian dari pada agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam ‘Al-Kafi, II/175’ dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami, “Wahai Abu Umar, sesungguhnya sembilan persepuluh dari agama ini adalah taqiyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak bertaqiyah.” (Firaq Mu’ashirah, I/196). Oleh karena itu Imam Malik ketika ditanya tentang mereka (Syiah) beliau berkata, “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka selalu berdusta.” Setali tiga uang dengan komentar Imam Syafi’i, katanya, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu!” (Mizanul I’tidal, II/27-28).
Rasis dan Narsis
Namun dari semua ajaran Syiah yang sangat konyol dan tak bisa diterima oleh akal sehat adalah adanya doktrin ‘thinah’ yang sangat naris (baca: narisisme) juga rasis (baca: rasisme). Doktrin ‘thinah’ –thinat al-mu’min wal-kafir—yaitu sebuah ajaran yang menyatakan bahwa dalam penciptaan manusia terdapat  unsur tanah putih dan tanah hitam. Para penganut Syiah tercipta dari unsur tanah putih sedangkan Ahlusunnah wal Jamaah terbuat dari tanah hitam. Para penganut Syiah yang tersusun dari tanah putih jika melakukan perbuatan maksiat dosanya akan ditimpakan kepada pengikut Ahlussunnah yang tersusun dari tanah hitam, sebaliknya pahala yang dimiliki oleh pengikut Ahlussunnah akan dilimpahkan kepada para penganut Syiah. Doktrin ini merupakan tersembunyi ‘hidden doctrine’ dalam ajaran Syiah, (Al-Kulaini, ‘Al-Kafi, Juz II / Kitab al-Imam, Bab ‘Thinat al-Mu;min wal-Kafir).
Mohammad Reza Pahlavi, Shah Iran yang  lahir di Tehran, Iran, 26 Oktober 1919 – meninggal di Kairo, Mesir, 27 Juli 1980 pada umur 60 tahun adalah kaisar Iran dari 16 September 1941 hingga Revolusi Iran pada 11 Februari 1979. Beliau pernah berhasrat untuk mendamaikan Syiah dan Sunni, maka diundanglah para ulama kedua aliran yang tidak akan pernah akur itu. Sampai waktu dimulainya acara pertemuan, ulama Syiah sudah para datang, namun sayang dari pihak Sunni belum ada yang terlihat kecuali satu orang ulama yang masuk ruangan sambil menjepit sandal jepit diketiaknya. Ulama-ulama Syiah bertanya kepada ulama Sunni itu. Apa yang kamu jepit di ketiakmu? “Sandal” jawabnya. “Kenapa Kamu bawa-bawa sandal jepit kesini?” Tanya ulama Syiah. “Karena saya mendengar di zaman Rasulullah ada orang Syiah pernah mencuri sandal!” jawab ulama Sunni dengan enteng. Mendengar pernyataan itu, para ulama syiah serentak menjawab, “Mana ada Syiah di zaman Rasulullah?”, ulama Sunni yang bijak itu berkata,”Cukuplah, selesai sudah pertemuan ini. Darimana kalian mengambil agama kalian?”
Ada yang berpendapat bahwa ulama Sunni dimaksud adalah Ahmad Dedaat ‘rahimahullah’, namun ada pula yang meragukan kebenaran cerita di atas terutama dari pihak Pihak Syiah yang merasa dirugikan. Namun, hemat penulis, tidak penting kisah di atas pernah berlaku atau tidak, yang jelas melalui bukti-bukti yang telah penulis paparkan dengan gamblang, menunjukkan bahwa aliran Syiah memang penuh dengan bid’ah, khurafat dan kebatilan. Untuk menangkis serangan Syiah terhadap Ahlussunnah, ada baiknya jika kita menggunakan teori Naquib Al-Attas, “Do not read too much, just use your mind!” Jangan terlalu banyak membaca dan ilmiah dalam menghadapi aliran sempalan, tapi perbanyak menggunakan logika dan analogi.  Wallahu a’lam! [ilham kodir/lppi makassar]

Fondasi Agama Syiah Rafidhah


Oleh: AM Waskito
Dalam tulisan sederhana ini, kita akan coba jelaskan asal-usul agama Syiah Imamiyah (Rafidhah). Meskipun penjelasan seputar tema ini sudah banyak, tidak ada salahnya terus kita jelaskan. Dalam riwayat, Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam menasehatkan, “Ceritakan tentang Bani Israil sebanyak-banyaknya.” Karena di antara sekte-sekte yang lahir dalam sejarah Islam, yang paling dekat tabiatnya dengan Yahudi, adalah Syiah Imamiyah; maka tidak ada salahnya kita banyak-banyak bicara tentang agama paganisme ini.
Mari kita mulai mengkaji masalah ini, semoga Allah memberikan ilmu, hidayah, dan taufik untuk menetapi yang diridhai-Nya, amin ya Rahiim.
[1]. Kajian ini dimulai dari sebuah ayat berikut: “Qul athi’ullaha war rasula, fa in tawal-lau fainnallaha laa yuhibbul kafirin” (Katakanlah -wahai Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam-: Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, maka jika kalian berpaling (dari ketaatan itu), maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir). /Surat Ali Imran: 32. Ayat ini menjadi sebuah pedoman; bahwa sikap taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dasar keimanan. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, akan memiliki iman; sementara siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, akan perlahan-lahan terseret ke domain kekafiran.
[2]. Awal munculnya Syiah adalah kebencian kepada Syariat Islam itu sendiri. Pendiri sekte ini sejak awal memang kafir dan ingin menodai Islam dengan ajaran sesat yang dia rintis. Prinsip yang dia pegang ialah seperti analogi “bola salju”. Bola salju kalau dilemparkan dari atas dalam ukuran kecil, nanti sampai di bawah akan menjadi besar. Si perintis sekte ini sudah tahu bahwa Islam akan eksis sampai akhir zaman. Maka sejak zaman Salaf (permulaan Islam, pasca wafatnya Nabi), dia telah merintis aliran sesat yang mendompleng nama Islam. Logikanya, “Kalau sekte ini dibentuk pada hari ini (zaman Salaf), maka di akhir zaman ia akan menjadi sekte besar.” Terbukti perkiraan dia benar.
[3]. Kalau sebuah sekte dibentuk di atas simbol-simbol kejahatan, kekejian, serta amoralitas; dapat dipastikan sekte itu tak akan bertahan lama. Maka sekte itu, kalau ingin eksis yang lama, ia harus dikaitkan dengan simbol-simbol yang luhur, mulia, teladan, kharismatik, serta berwibawa. Itu simbolnya saja; sedangkan soal substansi bobrok, itu masalah lain. Pendiri sekte Syiah menjadikan Ahlul Bait Nabi sebagai simbol. Kalau mereka menjadikan dajjal, Abu Jahal, Fir’aun, atau iblis sebagai simbol; sesuai fitrah manusia, hal-hal seperti itu akan ditolak.
Dalam Surat Thaaha ayat 96, Samiri berkata kepada Musa As tentang perbuatannya, membuat patung sapi betina. “Qaala, bashartu bi maa lam yabshuru bihi, fa qabadh-tu qab-dhatan min atsarir rasul, fanabadz-tuha; wa kadzalika sawwalat li nafsi” (Samiri berkata: aku melihat apa yang tidak mereka lihat, lalu aku segenggam jejak Rasul, lalu aku lemparkan ia; demikianlah, hawa nafsuku membujukku). Perkataan Samiri ini menjadi landasan berbagai kelompok sesat. Mereka selalu bertumpu di atas simbol-simbol yang baik, untuk mempengaruhi, merayu, membujuk, serta mengendalikan orang-orang awam (lugu); lalu di atas simbol-simbol itu mereka membuat tipu-daya kesesatan.
[4]. Entah mengapa, perintis agama Syiah ini memilih Khalifah Ali Radhiyallahu ‘Anhu sebagai simbol. Padahal tokoh-tokoh lain yang luhur dan melegenda juga tidak sedikit. Tetapi intinya, si perintis itu (para ulama sering menyebutnya sebagai Abdullah bin Saba’) mulai memuja-muja Ali; dan menjadikan dirinya sebagai mata air sebuah sekte sesat. Secara politik, Khalifah Ali memang punya pendukung; tetapi hal ini dalam lingkup politik, tidak sampai masuk wilayah akidah. Pendukung Khalifah Ali sering disebut “Syi’atu ‘Ali” (pendukung Ali). Tetapi nuansa politik pada golongan itu seiring perubahan zaman, terus bergeser menjadi nuansa ideologi, dengan lahirnya kelompokkultus individu terhadap sosok Ali dan keluarganya. Hal itu semakin parah dengan terjadinya Tragedi Karbala, ketika Husein dan keluarganya Radhiyallahu ‘Anhum terbunuh di tangan pasukan Yazid bin Muawiyah. Peristiwa Karbala menjadi amunisi besar yang semakin mengokohkan dominasi kelompok kultus Ali itu.
[5]. Mayoritas akidah Syiah berdiri di atas kultus individu terhadap sosok Ali (dan keluarganya); maka Syiah tak ubahnya seperti agama Nasrani yang memuja dan menyembah Yesus; bahkan lebih parah, karena yang disembah Syiah lebih banyak. Semua cabang-cabang akidah Syiah bermula dari pemujaan terhadap sosok Ali. Bagi kaum Syiah, bicara soal hak Kekhalifahan Ali, merupakan akidah tertinggi, melebihi Tauhid kepada Allah. Orang Syiah tidak peduli dengan Tauhid; tetapi dalam soal pemujaan terhadap Ali, mereka nomer satu. Istilah khas yang mereka kerap katakan, hak wilayah Ali atau imamiyah Ali.
[6]. Demi membela hak wilayah (kepempinan) Ali, segala pranata Syariat Islam dilabrak oleh kaum Syiah. Mereka menuduh Jibril As salah memberikan Wahyu; mereka menuduh Al Qur’an kaum Muslimin sudah diubah-ubah para Shahabat; mereka meyakini bahwa Ali, Hasan, Husein, Fathimah, dan anak keturunan mereka punya sifat-sifat Rubbubiyyah; mereka membatalkan Syariat, membatalkan Sunnah, membatalkan ilmu; mereka melecehkan para isteri Nabi dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum; mereka halalkan yang haram-haram; mereka kafirkan kaum Muslimin; dan seterusnya. Semua itu dimunculkan demi memuaskan dahaga kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib. Di titik ini, agama Syiah serupa dengan agama NAZI yang memuja Hitler (sosok manusia), atau agama Ahmadiyah yang memuja Mirza Ghulam, atau agama-agama lain yang memuja manusia.
[7]. Adalah sulit bagi Syiah Imamiyah untuk memaafkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Ummu Salamah, dan para Shahabat yang lain Radhiyallahu ‘Anhum. Sulit dan sulit sekali; atau hampir mustahil. Mengapa demikian? Sebab konsekuensi dari memuja dan menyembah Ali, mengharuskan untuk mencaci-maki, merendahkan, menghina, dan melaknati para Shahabat Nabi yang mulia itu. Kok bisa begitu? Sebab dalam hidupnya, para Shahabat Nabi Saw bersikap proporsional dan obyektif terhadap Ali dan keluarganya. Mereka menghargai, mencintai, membela, mendukung; tetapi tidak sampai memuja dan mengkultuskan. Nah, sikap para Sahabat ini dianggap perintang terberat bagi sekte kultus Ali tersebut. Akhirnya, mereka jadikan para Sahabat Nabi sebagai sasaran hujatan, permusuhan, kebencian, bahkan laknatan. Meskipun, semua bentuk kejahatan mereka itu, mau tidak mau, akan mengenai diri mereka sendiri. Tidaklah mereka menghujat hamba-hamba yang diridhai Allah, melainkan mereka akan balas dimurkai oleh Allah Ta’ala. Demikianlah adanya.
[8]. Begitulah akhirnya Syiah menjadi agama tersendiri yang didalamnya bercampur-baur antara: Syiar tauhid dan kemusyrikan, keimanan dan kekufuran, amal shalih dan kejahatan, simbol kemuliaan dan kehinaan, syiar persatuan sekaligus persengketaan, kejujuran dan kebohongan, ilmu agama dan penindasan. Sepanjang masa Syiah terus mengganggu Ahlus Sunnah; karena agama mereka tidak akan tegak, tanpa inspirasi dari Syariat Islam; di sisi lain, amal shalih yang bisa Syiah lakukan ialah membenci, memusuhi, melecehkan, menipu, dan menikam Ahlus Sunnah. Mengapa demikian? Kaum Syiah seperti manusia yang sudah kecanduan narkoba. Mereka setiap hari mencaci-maki para Shahabat Nabi yang mulia; lalu Allah Al Aziz tenggelamkan hidup dan jiwa mereka ke dalam permusuhan, permusuhan, dan permusuhan, tanpa akhir. Dalam jiwa seorang Rafidhah, dia tidak bisa tenang, jika sehari saja lupa dari membenci kaum Ahlus Sunnah. Mata air eksistensi hidup mereka ada dalam kebencian itu.
Ada penuturan ayat Al Qur’an yang sangat menarik….
Tidakkah kamu mengetahui, orang-orang yang diberikan sebagian Al Kitab, mereka beriman kepada Jibti dan Thaghut, dan mereka berkata kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), ‘Semua ini lebih memberi petunjuk daripada jalannya orang-orang beriman (Muslim). Itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah dan siapa yang dilaknati Allah, engkau selamanya tidak akan menjumpai penolong baginya.” [An Nisaa': 51-52].
Ayat ini berkaitan dengan Ahli Kitab yang memuji dan terpengaruh oleh ajaran-ajaran paganisme. Namun ayat ini memiliki kesamaan dengan perilaku orang-orang Syiah Rafidhah. Kesamaannya pada 3 sisi: (1). Syiah Rafidhah itu semula adalah orang-orang yang membaca Al Qur’an, atau menerima tuntunan Wahyu; (2). Syiah Rafidhah lama-lama menukar ajaran Tauhid menjadi kemusyrikan (paganisme), dengan menyembah Ali, Hasan, Husein, Fathimah, dan imam-imam Syiah. Dari risalah Tauhid berubah menjadi kemusyrikan; (3). Syiah Rafidhah menyenangi jalan paganisme itu, dan berbalik mencela jalan suci orang-orang beriman.
Dengan sikap seperti itu, maka Syiah pun menerima seperti yang diterima oleh kalangan Ahlul Kitab, yaitu: murka dan laknat Allah atas diri mereka. Na’udzubillah wa na’udzubillah tsumma na’udzubillah min dzalik.
[9]. Tetapi, ini kuncinya, bahwa kaum Syiah juga terkenal sangat pengecut. Dalam segala dendam, kebencian, dan permusuhan abadinya kepada Ahlus Sunnah (dan para Shahabat Nabi itu); tanpa kita sadari, mereka berlaku seperti orang-orang Bani Israil, yaitu sangat takut mati. Disebutkan dalam Surat Al Baqarah 96, bahwa: “Yawaddu ahaduhum lau yu’ammaru alfa sanatin, wa maa huwa bi muzahzihihi minal adzabi an yu’ammar, wallahu bashirun bi maa ya’maluun” (masing-masing mereka sangat senang andaikan bisa berumur 1000 tahun, dan tidaklah dia akan lepas dari adzab andaikan berumur panjang, dan Allah itu Maha Melihat apa yang mereka kerjakan). Kalau membaca sejarah, nyaris tidak ada satu pun tokoh pahlawan dari Syiah, sejak dulu sampai hari ini. Kalau pun mereka bisa berbuat aniaya, rata-rata karena di-back up oleh negara-negara Nasrani (dan Yahudi).
[10]. Bani Israil telah menyembah sapi betina, lalu Allah meresapkan sifat paganis itu ke dalam hati mereka. Kaum Syiah Rafidhah telah mencaci-maki para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum; lalu Allah resapkan ke dalam hati mereka rasa takut, rasa cemas, emosi, kedengkian, permusuhan, serta kegelisahan yang akut. Sungguh, orang-orang Syiah itu sudah sadar dan mengerti, bahwa mereka sedang berjalan menuju gerbang-gerbang kebinasaan; lalu mereka mencari teman, untuk menghibur diri menghadapi laknat, murka, dan siksa (jasmani-ruhani) dari Allah Ta’ala. Di balik statement-statement provokatif tokoh Syiah Bandung, Jalmat, sebenarnya tersembunyi ketakutan sangat hebat. Bukan kepada kita (manusia), tetapi kepada Allah yang selalu dia lecehkan agama dan Syariat-Nya.
Demikianlah sekilas tentang fondasi agama Syiah Rafidhah. Agama ini sangat complicated; segala bentuk sesat, durhaka, dan menyimpang, ada disini. Makanya kalau ada elit-elit di Indonesia yang tidak sadar akan kesesatan Syiah; bisa jadi, mereka adalah anggota Syiah; atau mereka mencari keuntungan politik dari pendukung Syiah; atau mereka mencari finansial dengan ide membela Syiah; atau memang mereka orang bodoh yang tidak tahu arah jalan.
Satu hal yang pasti: kaum Syiah menjadikan dendam dan permusuhan sebagai pokok agamanya, melebihi Tauhidullah; mereka mempertuhankan Ali, Hasan, Husein, Fathimah; mereka isi hidupnya dengan hanya dengki, dendam, permusuhan, dan kebencian; tetapi pada hakikatnya, mereka paling takut kematian; sebab dengan mati, mereka akan segera bisa mengetahui betapa beratnya murka Allah setelah kematian; karena murka yang sudah mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari pun sudah terlalu berat.
Semoga yang sederhana ini bermanfaat ya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

10 Logika Dasar Penangkal Syi’ah


Oleh: A.M Waskito, Penulis buku “Bersikap Adil pada Wahabi”
BERIKUT ini adalah 10 LOGIKA DASAR akidah Syiah bisa diajukan sebagai bahan diskusi ke kalangan Syiah dari level awam, sampai level ulama. Setidaknya, logika ini bisa dipakai sebagai “anti virus” untuk menangkal propaganda dai-dai Syiah yang ingin menyesatkan Ummat Islam dari jalan yang lurus.
Kalau Anda berbicara dengan orang Syiah, atau ingin mengajak orang Syiah bertaubat dari kesesatan, atau diajak berdebat oleh orang Syiah, atau Anda mulai dipengaruhi dai-dai Syiah; coba kemukakan 10 LOGIKA DASAR di bawah ini. Sehingga kita bisa membuktikan, bahwa ajaran mereka sesat dan tidak boleh diikuti.
LOGIKA 1: “Nabi dan Ahlul Bait”
Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok akidah kami.” Kemudian tanyakan lagi: “Benarkah Anda sungguh-sungguh mencintai Ahlul Bait Nabi?” Dia tentu akan menjawab: “Ya, demi Allah!”
Lalu katakan kepada dia: “Ahlul Bait Nabi adalah anggota keluarga Nabi. Kalau orang Syiah mengaku sangat mencintai Ahlul Bait Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai sosok Nabi sendiri? Bukankah sosok Nabi Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam lebih utama daripada Ahlul Bait-nya? Mengapa kaum Syiah sering membawa-bawa nama Ahlul Bait, tetapi kemudian melupakan Nabi?”
Faktanya, ajaran Syiah sangat didominasi oleh perkataan-perkataan yang katanya bersumber dari Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka. Kalau Syiah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau. Syiah memuliakan Ahlul Bait karena mereka memiliki hubungan dekat dengan Nabi. Kenyataan ini kalau digambarkan seperti: “Lebih memilih kulit rambutan daripada daging buahnya.”
LOGIKA 2: “Ahlul Bait dan Isteri Nabi”
Tanyakan kepada orang Syiah: “Siapa saja yang termasuk golongan Ahlul Bait Nabi?” Nanti dia akan menjawab: “Ahlul Bait Nabi adalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana dengan isteri-isteri Nabi seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain? Mereka termasuk Ahlul Bait atau bukan?” Dia akan mengemukakan dalil, bahwa Ahlul Bait Nabi hanyalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.
Kemudian tanyakan kepada orang itu: “Bagaimana bisa Anda memasukkan keponakan Nabi (Ali) sebagai bagian dari Ahlul Bait, sementara isteri-isteri Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara isteri-isteri yang biasa tidur seranjang bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa Fathimah lahir ke dunia, jika tidak melalui isteri Nabi, yaitu Khadijah Radhiyallahu ‘Anha? Bagaimana bisa Hasan dan Husein lahir ke dunia, kalau tidak melalui isteri Ali, yaitu Fathimah? Tanpa keberadaan para isteri shalihah ini, tidak akan ada yang disebut Ahlul Bait Nabi.”
Faktanya, dalam Surat Al Ahzab ayat 33 disebutkan: “Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankumul rijsa ahlal baiti wa yuthah-hirakum that-hira.” (bahwasanya Allah menginginkan menghilangkan dosa dari kalian, para ahlul bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya). Dalam ayat ini isteri-isteri Nabi masuk kategori Ahlul Bait, menurut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan selama hidupnya, mereka mendapat sebutan Ummul Mu’minin (ibunda orang-orang Mukmin) Radhiyallahu ‘Anhunna.
LOGIKA 3: “Islam dan Sahabat”
Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda beragama Islam?” Maka dia akan menjawab dengan penuh keyakinan: “Tentu saja, kami adalah Islam. Kami ini Muslim.” Lalu tanyakan lagi ke dia: “Bagaimana cara Islam sampai Anda, sehingga Anda menjadi seorang Muslim?” Maka orang itu akan menerangkan tentang silsilah dakwah Islam. Dimulai dari Rasulullah, lalu para Shahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu disebarkan oleh para dai ke seluruh dunia, hingga sampai kepada kita di Indonesia.”
Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Anda mempercayai silsilah dakwah Islam itu, mengapa Anda sangat membenci para Shahabat, mengutuk mereka, atau menghina mereka secara keji? Bukankah Anda mengaku Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita melewati tangan para Shahabat itu. Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa peranan Shahabat. Jika demikian, mengapa orang Syiah suka mengutuk, melaknat, dan mencaci-maki para Shahabat?”
Faktanya, kaum Syiah sangat membingungkan. Mereka mencaci-maki para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum dengan sangat keji. Tetapi di sisi lain, mereka masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci Shahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim. Sebuah adagium yang harus selalu diingat: “Tidak ada Islam, tanpa peranan para Shahabat!”
LOGIKA 4: “Seputar Imam Syiah”
Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda meyakini adanya imam dalam agama?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami.” Lalu tanyakan lagi: “Siapa saja imam-imam yang Anda yakini sebagai panutan dalam agama?” Maka mereka akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syiah. Ada juga yang menyebut 7 nama imam (versi Ja’fariyyah).
Lalu tanyakan kepada orang Syiah itu: “Mengapa dari ke-12 imam Syiah itu tidak tercantum nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali? Mengapa nama empat imam itu tidak masuk dalam deretan 12 imam Syiah? Apakah orang Syiah meragukan keilmuan empat imam madzhab tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan empat imam madzhab tidak sepadan dengan 12 imam Syiah?”
Faktanya, kaum Syiah tidak mengakui empat imam madzhab sebagai bagian dari imam-imam mereka. Kaum Syiah memiliki silsilah keimaman sendiri. Terkenal dengan sebutan “Imam 12″ atau Imamah Itsna Asyari. Hal ini merupakan bukti besar, bahwa Syiah bukan Ahlus Sunnah. Semua Ahlus Sunnah di muka bumi sudah sepakat tentang keimaman empat Imam tersebut. Para ahli ilmu sudah mafhum, jika disebut Al Imam Al Arba’ah, maka yang dimaksud adalah empat imam madzhab rahimahumullah.
LOGIKA 5: “Allah dan Imam Syiah”
Tanyakan kepada orang Syiah: “Siapa yang lebih Anda taati, Allah Ta’ala atau imam Syiah?” Tentu dia akan akan menjawab: “Jelas kami lebih taat kepada Allah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa Anda lebih taat kepada Allah?” Mungkin dia akan menjawab: “Allah adalah Tuhan kita, juga Tuhan imam-imam kita. Maka sudah sepantasnya kita mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan imam-imam itu.”
Kemudian tanyakan ke orang itu: “Mengapa dalam kehidupan orang Syiah, dalam kitab-kitab Syiah, dalam pengajian-pengajian Syiah; mengapa Anda lebih sering mengutip pendapat imam-imam daripada pendapat Allah (dari Al Qur’an)? Mengapa orang Syiah jarang mengutip dalil-dalil dari Kitab Allah? Mengapa orang Syiah lebih mengutamakan perkataan imam melebihi Al Qur’an?”
Faktanya, sikap ideologis kaum Syiah lebih dekat ke kemusyrikan, karena mereka lebih mengutamakan pendapat manusia (imam-imam Syiah) daripada ayat-ayat Allah. Padahal dalam Surat An Nisaa’ ayat 59 disebutkan, jika terjadi satu saja perselisihan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikap Islami, bukan melebihkan pendapat imam di atas perkataan Allah.
LOGIKA 6: “Ali dan Jabatan Khalifah”
Tanyakan kepada orang Syiah: “Menurut Anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan Khalifah setelah Rasulullah wafat?” Dia pasti akan menjawab: “Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi Khalifah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa bukan Abu Bakar, Umar, dan Ustman?” Maka kemungkinan dia akan menjawab lagi: “Menurut riwayat saat peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan bahwa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan.”
Kemudian katakan kepada orang Syiah itu: “Jika memang Ali bin Abi Thalib paling berhak atas jabatan Khalifah, mengapa selama hidupnya beliau tidak pernah menggugat kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman? Mengapa beliau tidak pernah menggalang kekuatan untuk merebut jabatan Khalifah? Mengapa ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Ustman, padahal dia memiliki kekuasaan? Kalau menggugat jabatan Khalifah merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Thalib akan menjadi orang pertama yang melakukan hal itu.”
Faktanya, sosok Husein bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma berani menggugat kepemimpinan Dinasti Umayyah di masa Yazid bin Muawiyyah, sehingga kemudian terjadi Peristiwa Karbala. Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar, tentu Ali Radhiyallahu ‘Anhu lebih berani melakukan hal itu.
LOGIKA 7: “Ali dan Husein”
Tanyakan ke orang Syiah: “Menurut Anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?” Maka dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Thalib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak perang di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam.” Atau bisa saja, ada pendapat di kalangan Syiah bahwa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.
Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syiah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tanggal 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Thalib? Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat saat mengemban tugas sebagai Khalifah.”
Faktanya, peringatan Hari Asyura sudah seperti “Idul Fithri” bagi kaum Syiah. Hal itu untuk memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syiah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu lebih dahsyat lagi.
Logika 8: “Syiah dan Wanita”
Tanyakan ke orang Syiah: “Apakah dalam keyakinan Syiah diajarkan untuk memuliakan wanita?” Dia akan menjawab tanpa keraguan: “Tentu saja. Kami diajari memuliakan wanita, menghormati mereka, dan tidak menzhalimi hak-hak mereka?” Lalu tanyakan lagi: “Benarkah ajaran Syiah memberi tempat terhormat bagi kaum wanita Muslimah?” Orang itu pasti akan menegaskan kembali.
Kemudian katakan ke orang Syiah itu: “Jika Syiah memuliakan wanita, mengapa mereka menghalalkan nikah mut’ah? Bukankah nikah mut’ah itu sangat menzhalimi hak-hak wanita? Dalam nikah mut’ah, seorang wanita hanya dipandang sebagai pemuas seks belaka. Dia tidak diberi hak-hak nafkah secara baik. Dia tidak memiliki hak mewarisi harta suami. Bahkan kalau wanita itu hamil, dia tidak bisa menggugat suaminya jika ikatan kontraknya sudah habis. Posisi wanita dalam ajaran Syiah, lebih buruk dari posisi hewan ternak. Hewan ternak yang hamil dipelihara baik-baik oleh para peternak. Sedangkan wanita Syiah yang hamil setelah nikah mut’ah, disuruh memikul resiko sendiri.”
Faktanya, kaum Syiah sama sekali tidak memberi tempat terhormat bagi kaum wanita. Hal ini berbeda sekali dengan ajaran Sunni. Di negara-negara seperti Iran, Irak, Libanon, dll. praktik nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran. Padahal esensinya sama, yaitu menghamba seks, menindas kaum wanita, dan menyebarkan pintu-pintu kekejian. Semua itu dilakukan atas nama agama. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
LOGIKA 9: “Syiah dan Politik”
Tanyakan ke orang Syiah: “Dalam pandangan Anda, mana yang lebih utama, agama atau politik?” Tentu dia akan berkata: “Agama yang lebih penting. Politik hanya bagian dari agama.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana kalau politik akhirnya mendominasi ajaran agama?” Mungkin dia akan menjawab: “Ya tidak bisa. Agama harus mendominasi politik, bukan politik mendominasi agama.”
Lalu katakan ke orang Syiah itu: “Kalau perkataan Anda benar, mengapa dalam ajaran Syiah tidak pernah sedikit pun melepaskan diri dari masalah hak Kekhalifahan Ali, tragedi yang menimpa Husein di Karbala, dan kebencian mutlak kepada Muawiyyah dan anak-cucunya? Mengapa hal-hal itu sangat mendominasi akal orang Syiah, melebihi pentingnya urusan akidah, ibadah, fiqih, muamalah, akhlak, tazkiyatun nafs, ilmu, dll. yang merupakan pokok-pokok ajaran agama? Mengapa ajaran Syiah menjadikan masalah dendam politik sebagai menu utama akidah mereka melebihi keyakinan kepada Sifat-Sifat Allah?”
Faktanya, ajaran Syiah merupakan contoh telanjang ketika agama dicaplok (dianeksasi) oleh pemikiran-pemikiran politik. Bahkan substansi politiknya terfokus pada sikap kebencian mutlak kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap merampas hak-hak imam Syiah. Dalam hal ini akidah Syiah mirip sekali dengan konsep Holocaust yang dikembangkan Zionis internasional, dalam rangka memusuhi Nazi sampai ke akar-akarnya. (Bukan berarti pro Nazi, tetapi disana ada sisi-sisi kesamaan pemikiran).
LOGIKA 10. “Syiah dan Sunni”
Tanyakan ke orang Syiah: “Mengapa kaum Syiah sangat memusuhi kaum Sunni? Mengapa kebencian kaum Syiah kepada Sunni, melebihi kebencian mereka kepada orang kafir (non Muslim)?” Dia tentu akan menjawab: “Tidak, tidak. Kami bersaudara dengan orang Sunni. Kami mencintai mereka dalam rangka Ukhuwwah Islamiyyah. Kita semua bersaudara, karena kita sama-sama mengerjakan Shalat menghadap Kiblat di Makkah. Kita ini sama-sama Ahlul Qiblat.”
Kemudian katakan ke dia: “Kalau Syiah benar-benar mau ukhuwwah, mau bersaudara, mau bersatu dengan Sunni; mengapa mereka menyerang tokoh-tokoh panutan Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, isteri-isteri Nabi (khususnya Aisyah dan Hafshah), Abu Hurairah, Zubair, Thalhah, dan lain-lain? Mencela, memaki, menghina, atau mengutuk tokoh-tokoh itu sama saja dengan memusuhi kaum Sunni. Tidak pernah ada ukhuwwah atau perdamaian antara Sunni dan Syiah, sebelum Syiah berhenti menista para Shahabat Nabi, selaku panutan kaum Sunni.”
Fakta yang perlu disebut, banyak terjadi pembunuhan, pengusiran, dan kezhaliman terhadap kaum Sunni di Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Pakistan, Afghanistan, dll. Hal itu menjadi bukti besar bahwa Syiah sangat memusuhi kaum Sunni. Hingga anak-anak Muslim asal Palestina yang mengungsi di Irak, mereka pun tidak luput dibunuhi kaum Syiah. Hal ini pula yang membuat Syaikh Qaradhawi berubah pikiran tentang Syiah. Jika semula beliau bersikap lunak, akhirnya mengakui bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah sangat sulit disatukan. Dalam lintasan sejarah kita mendapati bukti lain, bahwa kaum Syiah tidak pernah terlibat perang melawan negara-negara kufar. Justru mereka sering bekerjasama dengan negara kufar dalam rangka menghadapi kaum Muslimin. Hancurnya Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad, sikap permusuhan Dinasti Shafawid di Mesir, era Perang Salib di masa Shalahuddin Al Ayyubi, serta Khilafah Turki Utsmani, di atas semua itu terekam fakta-fakta pengkhianatan Syiah terhadap kaum Muslimin. Begitu juga, jatuhnya Afghanistan dan Iraq ke tangan tentara Sekutu di era modern, tidak lepas dari jasa-jasa para anasir Syiah dari Iran.
Demikianlah 10 LOGIKA DASAR yang bisa kita gunakan untuk mematahkan pemikiran-pemikiran kaum Syiah. Insya Allah tulisan ini bisa dimanfaatkan untuk secara praktis melindungi diri, keluarga, dan Ummat Islam dari propaganda-propaganda Syiah. Amin Allahumma amin.
Jika ada benarnya, hal itu semata merupakan karunia Allah Azza Wa Jalla. Kalau ada kesalahan, khilaf, dan kekurangan, itu dari diri saya sendiri. Wal ‘afwu minkum katsira, wastaghfirullaha li wa lakum, wa li sa’iril Muslimin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab.* [habis]
[sumber: hidayatullah]

Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?


Oleh: AM Waskito
Bertahun-tahun silam pernah diadakan diskusi antara seorang Ustadz dari PP Persis Bandung dengan Jalaluddin Rahmat (tokoh Syiah asal Bandung). Dalam makalahnya, Ustadz Persis itu tanpa tedeng aling-aling membuat kajian berjudul, “Syiah Bukan Bagian dari Islam”.
Ketika sessi dialog berlangsung, Ustadz Persis itu -dengan pertolongan Allah- mampu mematahkan argumen-argumen Jalaluddin Rahmat. Kejadiannya mirip, ketika dilakukan diskusi di Malang antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz-ustadz Persis Bangil; ketika merespon lahirnya buku Islam Aktual, karya Jalaluddin Rahmat.
Ada satu momen penting menjelang akhir diskusi di Bandung itu. Saat itu Jalaluddin mengatakan, “Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?” Nah, atas pernyataan ini, tidak ada tanggapan serius dari para Ustadz di atas.
Ternyata, Mereka Masih Butuh Tanah Suci (Makkah & Madinah).
Dan ternyata, kata-kata serupa itu dipakai oleh Prof. Dr. Umar Shibah, tokoh Syiah yang menyusup ke lembaga MUI Pusat. Ketika kaum Syiah terdesak, dia mengemukakan kalimat pembelaan yang sama. “Kalau Syiah dianggap sesat, mengapa mereka masih boleh berhaji ke Tanah Suci?”
Lalu, bagaimana kalau pertanyaan di atas disampaikan kepada Anda-Anda semua wahai, kaum Muslimin? Apa jawaban Anda? Apakah Anda akan memberikan jawaban yang tepat, atau memilih menghindar?
Sekedar catatan, konon dalam sebuah diskusi antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz M. Thalib (sekarang Amir MMI). Saat disana ada kebuntuan argumentasi, katanya Ustadz M. Thalib menantang Jalaluddin melakukan “diskusi secara fisik” di luar. Ya, ini sekedar catatan, agar kita selalu mempersiapkan diri dengan argumen-argumen yang handal sebelum “bersilat” pemahaman dengan orang beda akidah.
Mengapa kaum Syiah masih boleh masuk ke Tanah Suci, baik MakkahAl Mukarramah maupun Madinah Al Munawwarah?
Mari kita jawab pertanyaan ini:
PERTAMA, sebaik-baik jawaban ialah Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu sebenar-benar alasan di balik kebijakan Pemerintah Saudi memberikan tempat bagi kaum Syiah untuk ziarah ke Makkah dan Madinah.
KEDUA, dalam sekte Syiah terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang lebih dekat ke golongan Ahlus Sunnah (yaitu Syiah Zaidiyyah-meski sebagaian ulama sudah mengatakan Syiah Zaidiyyah sudah tergolong sesat dengan Syiah lainnya-Red), ada yang moderat kesesatannya, dan ada yang ekstrim (seperti Imamiyyah dan Ismailiyyah). Terhadap kaum Syiah ekstrim ini, rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka. Nah, dalam praktiknya, tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.
KETIGA, usia sekte Syiah sudah sangat tua. Hampir setua usia sejarah Islam itu sendiri. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, aliran Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah sudah mempunyai sejarah sendiri, sebelum kekuasaan negeri Saudi dikuasai Dinasti Saud yang berpaham Salafiyyah. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Syiah sudah masuk Makkah-Madinah. Ibnu Hajar Al Haitsami penyusun kitab As Shawaiq Al Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik, sudah ada jauh sebelum era Dinasti Saud.
KEEMPAT, kalau melihat identitas kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al Tsaurah Al Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.
KELIMA, kebanyakan kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, mereka orang awam. Artinya, kesyiahan mereka umumnya hanya ikut-ikutan, karena tradisi, atau karena desakan lingkungan. Orang seperti ini berbeda dengan tokoh-tokoh Syiah ekstrem yang memang sudah dianggap murtad dari jalan Islam. Tanda kalau mereka orang awam yaitu kemauan mereka untuk datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah itu sendiri. Kalau mereka Syiah ekstrim, tak akan mau datang ke Tanah Suci Ahlus Sunnah. Mereka sudah punya “tanah suci” sendiri yaitu: Karbala’, Najaf, dan Qum. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.
KEENAM, orang-orang Syiah yang datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah sangat diharapkan akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.
KETUJUH, hadirnya ribuan kaum Syiah di Tanah Suci Makkah-Madinah, hal tersebut adalah BUKTI BESAR betapa ajaran Islam (Ahlus Sunnah) sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun para ulama dan kaum penyesat Syiah sudah bekerja keras sejak ribuan tahun lalu, untuk membuat-buat agama baru yang berbeda dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah; tetap saja fitrah mereka tidak bisa dipungkiri, bahwa hati-hati mereka terikat dengan Tanah Suci kaum Muslimin (Makkah-Madinah), bukan Karbala, Najaf, dan Qum.
KEDELAPAN, kaum Syiah di negerinya sangat biasa memuja kubur, menyembah kubur, tawaf mengelilingi kuburan, meminta tolong kepada ahli kubur, berkorban untuk penghuni kubur, dll. Kalau mereka datang ke Makkah-Madinah, maka praktik “ibadah kubur” itu tidak ada disana. Harapannya, mereka bisa belajar untuk meninggalkan ibadah kubur, kalau nanti mereka sudah kembali ke negerinya. Insya Allah.
KESEMBILAN, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”
Demikian sebagian jawaban yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat. Pesan spesial dari saya, kalau nanti Prof. Dr. Umar Shihab, atau Prof. Dr. Quraish Shihab (dua tokoh ini saudara kandung, kakak-beradik; bersaudara juga dengan Alwi Shihab, Mantan Menlu di era Abdurrahman Wahid), beralasan dengan alasan tersebut di atas; mohon ada yang meluruskannya. Supaya beliau tidak banyak membuang-buang kalam, tanpa guna.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin

Pernahkah Syiah Melawan Zionis?


Oleh: AM Waskito
Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah Rafidhah selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…
  • Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.
  • Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya instalasi nuklir. Sejarah Syiah: “Selalu Menusuk Ahlus Sunnah dari Belakang. Dan Tak Pernah Perang Melawan Orang Kafir.”
  • Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.
  • Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.
  • Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.
Ya, kurang lebih begitu klaim para aktivis agama Persia (Syiah Rafidhah) ini. Di berbagai forum, kesempatan, termasuk dalam diskusi di blog ini, alasan-alasan itu selalu mereka munculkan. Seakan-akan, tidak ada lagi alasan bagi Syiah untuk tetap eksis di muka bumi, selain klaim-klaim seperti itu.
Lalu bagaimana pandangan kita sebagai Ahlus Sunnah tentang klaim kaum Syiah ini?
Mari kita bahas secara ringkas dan praktis, dengan memohon pertolongan Allah Al Hadi…
PERTAMA. Kaum Syiah Rafidhah itu terus bekerja keras dan sangat nafsu, agar mereka tetap diakui sebagai Islam, tetap dipandang sebagai Muslim, tetap menjadi bagian dari kaum Muslimin sedunia. Hal ini adalah hakikat siksaan spiritual yang Allah timpakan atas hati-hati mereka, selamanya. Mereka telah sangat berdosa karena mencaci, melecehkan, mengutuk, dan mendoakan keburukan atas isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Maka Allah pun menjadikan mereka selalu gelisah, takut, dan sangat menginginkan diberi label Islam atau Muslim. Mereka selalu dalam kebingungan seperti ini, layaknya Bani Israil yang kebingungan selama 40 tahun di Padang Tiih, karena telah menghina Musa ‘Alaihissalam dan Allah Ta’ala. Lihatlah manusia-manusia pemeluk agama Persia (Rafidhah) itu…mereka kemana-mana membawa laknat atas doa-doa laknat yang mereka bacakan untuk mengutuki manusia-manusia terbaik dari para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum.
KEDUA. Dalam sejarahnya, sejak zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sampai hari ini, ketahuilah bahwa Syiah Rafidhah (agama Persia) ini tidak pernah berjihad melawan kaum kuffar, baik itu Nashrani, Yahudi, musyrikin, dan orang-orang atheis. Syiah tidak punya sejarah jihad menghadapi kaum kuffar. “Jihad” kaum Syiah sebagian besar diarahkan untuk menyerang kaum Sunni, sejak zaman dahulu sampai saat ini.
Mula-mula Syiah di Kufah mengundang Husein Radhiyallahu ‘Anhu datang ke Kufah, katanya mau dibaiat. Karena Husein sudah berangkat ke Kufah, oleh penguasa kala itu (Yazid bin Muawiyah) Husein dianggap bughat, sehingga boleh ditumpas. Waktu tiba di Kufah, tak satu pun kaum Syiah keluar untuk membaiat, menolong dan mendukung Husein. Posisi Husein sangat terjepit, akan kembali ke Madinah, dia sudah dianggap bughat. Meminta bantuan Kufah, tak satu pun Syiah yang akan menolong. Akhirnya, Husein ditumpas di Padang Karbala. Bahkan kala penumpasan itu, tak satu pun hidung Syiah menampakkan diri, walau sekedar untuk menolong korban dari pihak Husein dan keluarganya. Nah, peristiwa pembantaian Husein oleh kaum Syiah itulah yang selalu mereka rayakan dan nikmati dalam momen-momen Asyura. Air mata mereka mengutuk para pembunuh Husein, sedangkan hati mereka berucap: “Alhamdulillah Husein dan keluarganya telah binasa di Karbala.”
“Jihad” kaum Syiah berikutnya ialah membantu Hulagu Khan (penguasa Mongol) untuk menumpas Khilafah Abbasiyah. Kemudian mereka berusaha melenyapkan kaum Sunni di Mesir, tetapi berhasil ditumpas oleh Nuruddin Mahmud Zanki. Mereka terus menikam perjuangan Shalahuddin Al Ayyubi. Mereka juga selalu menjadi musuh Khilafah Turki Utsmani, selalu kerjasama dengan negara-negara Nashrani Eropa untuk melemahkan Khilafah Turki. Di zaman kontemporer, Revolusi Khomeini di Iran telah menumpas Ahlus Sunnah di Iran. Mereka juga menikam perjuangan mujahidin di Afghanistan. Mereka membantai Ahlus Sunnah di Irak, Libanon, Suriah, Yaman, bahkan mereka hampir menguasai Bahrain.
Singkat kata, tidak ada Jihad kaum Syiah dalam sejarah, selain “jihad” yang diarahkan untuk memusnahkan dan menghancur-leburkan kaum Sunni. Sejarah klasik dan modern sudah memaparkan fakta. Bahkan dalam kasus Iran Contra Gate terbongkar skandal besar. Ternyata, di balik gerakan Kontra di Nikaragua, Amerika memasok senjata kepada para gerilyawan itu. Darimana dananya? Dari hasil kerjasama jual-beli minyak dengan Iran. Padahal dalam kampanye dunia, sudah dimaklumkan bahwa Amerika itu sedang konflik dengan Iran. Tetapi di balik itu ada sandiwara “jual-beli minyak” yang menggelikan. Kasus ini sangat terkenal, sehingga seorang kolonel Amerika dikorbankan sebagai tumbalnya.
KETIGA. Apa sih yang dilakukan Hizbullah (Syiah Rafidhah) di Libanon kepada Israel? Apakah dia terlibat perang terbuka dengan Israel? Apakah dia menduduki wilayah Israel dan berusaha mengusir penduduk Yahudi? Ternyata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya melepaskan tembakan mortir ke arah pasukan Israel atau wilayah Israel. Atau mereka melakukan tembakan senapan, atau tembakan rudal anti tank. Hanya itu saja. Mereka tidak pernah terlibat perang terbuka face to face, seperti para pejuang Ahlus Sunnah di Irak, Afghanistan, Chechnya dan lainnya. Jadi singkat kata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya semacam “main-main” untuk membuang amunisi-amunisi ringan. Itu saja kok.
KEEMPAT. Dalam sejarah perang Arab-Israel, sejak merdeka tahun 1948 Israel sudah berkali-kali bertempur dengan pasukan Arab. Yang terkenal adalah perang tahun 48, perang tahun 67, dan perang tahun 70-an. Ia kerap disebut perang Arab-Israel. Setelah itu belum ada lagi perang yang significant. Dalam sejarah ini, lagi-lagi tiada peranan Iran sama sekali. Bahkan ketika Ghaza dihancur-leburkan Israel pada tahun 2008-2009 lalu, Iran lagi-lagi tidak terlibat apa-apa. Jadi, apa yang bisa dibanggakan dari manusia-manusia pemeluk agama Persia (Syiah Rafidhah) itu?
KELIMA. Menurut Ustadz Farid Okbah, di Iran itu sangat banyak orang-orang Yahudi. Menurut informasi, jumlahnya bisa mencapai 50.000 jiwa. Mereka bisa hidup aman dan sentosa di Iran, sedangkan Ahlus Sunnah hidupnya sangat menderita di sana. Iran bersikap welcome kepada kaum Yahudi, dan sangat ofensif kepada kaum Muslimin. Ini adalah realitas yang sangat menyedihkan. Makanya tidak salah kalau ada yang mengatakan, Rafidhah lebih sadis dari orang-orang kafir lain.
Contoh yang sangat unik ialah kerjasama antara Hamas dan Iran. Banyak orang menyebutkan, Hamas kerap kerjasama dengan Iran. Hal itu konon berdasarkan sikap Syaikh Al Bana yang dulunya pernah berujar, bahwa Syiah adalah sesama saudara Muslim juga. Mereka sama-sama Ahlul Qiblah. Tetapi realitasnya, Ikhwanul Muslimin di Suriah dibantai puluhan ribu manusia disana oleh regim Hafezh Assad. Ternyata, regim itu dan anaknya (Bashar Assad, red nm), dibantu oleh Iran juga. Nah, ini kan sangat ironis. Hamas kerjasama dengan Iran, sementara Al Ikhwan di Suriah dibantai oleh regim Suriah yang didukung oleh Iran.
KEENAM. Propaganda bahwa Syiah Rafidhah itu musuh Zionis Israel, semua ini hanya propaganda belaka. Sejatinya mereka itu teman-karib, sahabat dekat, saling tolong-menolong, sebagian menjadi wali atas sebagian yang lain. Mereka ini selamanya tak akan pernah terlibat dalam peperangan. Kaum Yahudi membutuhkan Iran, sebagai seteru Ahlus Sunnah. Sedangkan Iran membutuhkan Yahudi, juga sebagai seteru Ahlus Sunnah. Dalam hadits Nabi Saw juga disebutkan bahwa kelak dajjal akan muncul dari Isfahan (salah satu kota di Iran yang saat ini banyak dihuni Yahudi) dengan 70.000 pasukan. Yahudi membutuhkan Iran, karena darinya akan muncul pemimpin mereka. Dan dalam literatur-literatur Syiah, sosok dajjal itu sebenarnya adalah sosok “Al Mahdi Al Muntazhar” yang selalu mereka tunggu-tunggu. Begitulah, banyak kesamaan kepentingan antara Syiah dan Yahudi.
KETUJUH. Fakta berikutnya yang sangat mencengangkan. Ternyata Syiah Iran juga menjalin kerjasama dengan China dan Rusia, dua negara dedengkotnya Komunis. Mereka ini umumnya kerjasama dalam soal industri, perdagangan, dan jual-beli senjata. Ketika Amerika berniat menjatuhkan sanksi akibat instalasi nuklir Iran, segera China dan Rusia memveto niatan itu. Kedua negara terang-terangan membela Iran. Begitu juga China dan Rusia juga membela regim Bashar Assad (semoga Allah Al Aziz segera memecahkan kepala manusia durjana satu ini, amien ya Mujibas sa’ilin) dari ancaman sanksi internasional. Sedangkan kita tahu, regim Suriah sangat dekat koneksinya dengan Iran. Jadi, kita bisa simpulkan sendiri posisi Iran di mata China, Rusia, dan regim Suriah.
Jadi kalau kemudian kita mendengar propaganda Syiah anti Yahudi, Syiah anti Amerika, Syiah anti Zionis, dan sebagainya…ya sudahlah, saya akan ketawa saja. Tidak usah dianggap serius. Anggaplah semua itu hanya “olah-raga kata-kata” saja (meminjam istilah seorang politisi busuk). Syiah selamanya akan berkawan dengan kaum kuffar dan sangat apriori dengan kaum Muslimin (Ahlus Sunnah). Mereka itu lahir dari sejarah kita, tetapi wujud dan hatinya milik orang kafir. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
Semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Semoga kita semakin sadar, bahwa Syiah Rafidhah bukanlah kawan. Mereka membutuhkan istilah kawan selagi masih lemah. Nanti kalau sudah kuat, mereka akan menghancur-leburkan Ahlus Sunnah. Tetapi cukuplah Allah Ta’ala sebagai Wali, Pelindung, dan Penolong kita. Dialah sebaik-baik Pelindung dan Penjaga. Walhamdulillahi Rabbil ’alamiin. [sumber: www.nahimunkar.com]

Zionis & Syiah, Bersatu Hantam Islam


DULU orang masing mengira bahwa Iran adalah negara terdepan dalam melawan Zionisme Yahudi. Namun Buku Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam punya fakta sebaliknya. Keduanya tampak di luar bermusuhan, tapi di bawah meja saling bersalaman.
Antara tahun 1962 sampai kejatuhan Syah Pahlevi pada tahun 1979, intelijen Israel melakukan kontak kuat dengan banyak petugas Iran yang dilatih oleh militer Israel. Rezim Khomeini menghabiskan dana hingga 500 juta US Dollar guna membeli peralatan perang dari Israel sepanjang tahun 1980 hingga 1983. Bahkan keduanya terlibat secara bersamaan dalam menyerang reaktor nuklir Irak pada tahun 1981. Tidak heran di Iran ada perpustakaan Yahudi dengan foto Khomeini di dalamnya.
Romantisme Syiah dan Zionis terus berlanjut hingga invasi Amerika Serikat pada tahun 2003. Brigade Sadr adalah milisi Syiah yang melindungi tentara George Bush dari Kuwait menuju Baghdad melewati gurun pasir An-Nashiriyah. Maka tidaklah aneh jika Ali As Sistani (Ulama Syiah Irak) yang biasanya lantang menyuarakan perang atas invasi Israel tapi melarang jihad melawan hegemoni Amerika Serikat di Irak. Itulah skandal sejarah yang dilakukan oleh sumber Syiah tertinggi di negeri 1001 malam itu.
Buku ini menjadi sebuah rujukan otoritatif dalam membuka mata umat tentang relasi Syiah dan Zionis yang dilakukan dari waktu ke waktu. Semuanya dibongkar dari mulai Iran, Irak, Suriah, Hizbullah hingga potret penindasan sistematis terhadap Ahlussunah di negara Syiah terbesar di dunia.
Ditulis oleh seorang Jurnalis Islam yang menekuni kajian Zionisme Internasional dan dijabarkan dengan gaya menulis yang enak dibaca. Sangat kaya data dan fakta demi menyadarkan umat bahwa musuh umat Islam sejatinya bukan saja Zionis, tapi juga Syiah. Semoga bermanfaat!
Endorsment tokoh
“Saat ini semakin terlihat dan terbukti kolaborasi Syiah dengan zionis memerangi islam. Hal ini sudah lumrah, karena syiah adalah ciptaan zionis (yahudi) untuk memecah belah dan menghan-curkan Islam dari dalam. Syiah menjadi alat Yahudi zionis untuk mengacaukan kemurnian ajaran Islam. Syiah diciptakan oleh Abdullah bin Saba’ orang yahudi yg pura-pura masuk Islam, dgn tujuan memecah belah umat Islam dalam rangka menghancurkan Islam dengan kedok pembelaan terhadap ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam. Umat Islam harus mewaspadai mereka dan memas-tikan bahwa Islam yang dilaksanakan adalah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wassalam.” – Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (hafizahullah)
“Selama ini opini berhembus bahwa Syiah dan Zionis adalah dua kelompok yang saling bertikai. Namun buku ini memberikan perspektif baru dalam melihat fakta yang sebenarnya bahwa pada satu titik mereka dapat bersama melawan umat Islam. Selain itu buku ini sangat menarik karena mengetengahkan data-data mutakhir terkait upaya Zionisme menyongsong akhir zaman. Umat Islam harus membacanya.” – DR. Adhyaksa Dault (Mantan Menpora RI)
“Buku Dahsyat yang mengurai secara rinci seluk beluk musuh musuh Islam. Dengan membaca buku ini semoga pembaca memperoleh informasi dari penulis tentang konstalasi musuh musuh islam yang menggunakan cara tersamar. Penting bagi umat islam terutama para pemudanya untuk melek informasi mengenai kekuatan musuh islam dan modus operandinya dalam merusak akidah sehingga bisa mengambil pelajaran untuk memperjuangkan Islam berdasarkan manhaj Nabi” – Munarman SH (Ketua An-Nashr Institute, Lembaga Kajian Strategis)
“Pencetus Syiah adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, seperti pengakuan ulama Syiah An Nubakhti dalam kitabnyaFIrakusysyiah. Dalam ajarannya banyak yg mirip Yahudi begitu pula gerakannya mirip dengan zionisme makanya tidak heran kalau terungkap skandal IRAN GATE kerja sama jual beli senjata Yahudi, Amereka dan Iran.” - Ustadz Farid Achmad Okbah (Pengamat Syiah)
Tentang Buku;
Judul                    : Zionis dan Syiah bersatu hantam Islam
Penulis                 : Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi
Penerbit               : Arrahmah Publishing
Halaman              : 448 hal
Harga Pekiraan  : Rp. 120 rb
Bagi yang berminat untuk memesan terlebih dahulu atau mengadakan bedah buku, anda bisa sms ke 0812 1212 3282 atau email: arrahmah.publishing@gmail.com, Facebook Page Arrahmah Publishing.