Followers

Wednesday, 31 July 2013


Mengapa Syiah Sangat Membenci Malaikat Jibril?

By  
syiahsampang
Oleh: Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhahullah Ta’ala
الحمدالله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين
أما بعد :
Sungguh Syi’ah telah terpengaruh dengan keyakinan Yahudi dalam hal permusuhan mereka terhadap Malaikat Jibril ‘alaihis salam
Berikut ini adalah penjelasan dari Asy-Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fauzan (Anggota Dewan Fatwa Arab Saudi) dalam kitabnya Al-Manhah Ar-Robbaniyah fi Syarhil Arba’ina An-Nawawiyah, hal.53-54 Cet. Darul ‘Ashimah:
“Diantara mereka ada yang memusuhi para malaikat, diantara mereka ada juga yang memusuhi sebagian malaikat. Seperti Yahudi yang memusuhi Malaikat Jibril ‘alaihis salam, mereka mengatakan Jibril musuh kami, seandainya yang turun kepada Muhammad (untuk menyampaikan wahyu) bukan Jibril pasti kami akan beriman kepadanya, tetapi karena yang turun kepadanya adalah Jibril maka kami tidak mau beriman kepadanya, karena Jibril adalah musuh kami. Allah berfirman:
قال الله تعالى: (قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ * مَن كَانَ عَدُوّاً لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ….) البقرة : 97-98
“Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman * Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir” (QS. Al-Baqoroh: 97-98)
Diantara syi’ah juga ada yang memusuhi Jibril karena terpengaruh dengan Yahudi.
Mereka berkata: Sesungguhnya risalah (kenabian) untuk Ali tetapi Jibril berkhianat dan memberikannya kepada Muhammad.
Seorang penya’ir mereka berkata:
خان الأمين وصدها عن حيدرة
“Telah berkhianat Al-Amin (Jibril) dan menghalanginya dari Haidaroh (‘Ali)”
[sahab]

Ulama Syiah: ‘Abu Bakar, Umar, Aisyah, Muawiyah Adalah Nama-Nama Pintu Jahanam’

By  
pintu-neraka130403a
Oleh: Muhammad Istiqamah
LPPI Makassar 

Semakin membuka lembaran-lembaran ajaran Syiah dari kitab-kitab induk penyesat umat, maka semakin nampaklah kesesatan ajarannya yang sangat provokator menghina dan melecehkan tokoh-tokoh utama dalam Islam seperti sahabat Nabi yang paling mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dan Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu. Bahkan seorang ummahatul mukminin, istri yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Aisyah radhiyallahu anha.
Nama-nama mulia itu disebut sebagai nama-nama pintu neraka jahannam! Semoga Allah yang mahaperkasa membalas mereka dengan azab pedih di alam kubur dan neraka.
Pendeta terkemuka Syiah, Al-Majlisi menuliskan kata-kata keji itu dalam kitabnya Biharul Anwar, jilid 3, hal 577 berikut ini:
عن أبي بصير قال: يؤتي بجهنم لها سبعة أبواب: بابها الأول للظالم وهو زريق، وبابها الثاني لحبتر، والباب الثالث للثالث، والرابع لمعاوية، والباب الخامس لعبد الملك، والباب السادس لعسكر بن هو سر، والباب السابع لأبي سلامة، فهم (فهي خ ل) أبواب لمن اتبعهم
بيان: الرزيق كناية عن أبي بكر لان العرب يتشأم بزرقة العين. والحبتر هو عمر، والحبتر هو الثعلب، ولعله إنما كني عنه لحيلته ومكره، وفي غيره من الاخبار
وقع بالعكس وهو أظهر إذا الحبتر بالأول أنسب، ويمكن أن يكون هنا أيضا المراد ذلك، وإنما قدم الثاني لأنه أشقى وأفظ وأغلظ. وعسكر بن هو سر كناية عن بعض خلفاء بني أمية أو بني العباس، وكذا أبي سلامة، ولا يبعد أن يكون أبو سلامة كناية عن أبي جعفر الدوانيقي، ويحتمل أن يكون عسكر كناية عن عائشة وسائر أهل الجمل إذ كان اسم جمل عائشة عسكرا، وروي أنه كان شيطانا
Dari Abu Bashir, ia berkata, Neraka Jahannam didatangkan dan memiliki tujuh pintu. Pintu pertama untuk si zalim yaitu zariq. Pintu kedua untuk si Habtar. Pintu ketiga untuk yang ketiga. Pintu keempat untuk Muawiyah. Pintu kelima untuk Abdul Malik. Pintu keenam untuk Askar bin Husir. Pintu ketujuh untuk Abu Salamah. Pintu-pintu itu juga diperuntukkan untuk pengikut-pengikut mereka.
Penjelasan: Zariq adalah sebutan untuk Abu Bakar. Habtar sebutan untuk Umar. Habtar adalah serigala, mungkin disebut begitu karena kelicikan dan makarnya. Dalam riwayat lain disebutkan sebaliknya dan itulah yang lebih benar, yaitu Habtar untuk yang pertama lebih sesuai. Mungkin juga berada disini dengan maksud seperti itu. Sedangkan yang kedua didahulukan karena ia lebih keras dan lebih keji. Askar bin Husir adalah sebutan untuk beberapa Khalifah Bani Umayyah atau Bani Abbasiyah. Begitu juga dengan Abu Salamah. Tidak salah juga jika Abu Salamah merupakan sebutan untuk Abu Ja’far Ad-Dawaniqi. Kemungkinan lainnya bahwa Askar adalah sebutan untuk Aisyah dan seluruh pasukan Jamal dimana unta Aisyah bernama Askar. Dalam riwayat lain disebut bahwa unta tersebut adalah setan.
Berikut ini scan kitab penyesat itu:

Sumber:

Apa Kata Ulama Tentang Syiah?

By  
syiah bule
IMAM Malik –rahimahullah- (w 179) berkata, “Orang yang mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki tempat dalam Islam.” (Sunnah, Al Khallal, 1/493)
Beliau juga pernah ditanya bagaimana menyikapi orang-orang rafidhah, maka ia menjawab, “Jangan berbicara kepada mereka dan jangan bersikap manis, karena mereka semua pendusta.” (Minhaj Sunnah, 1/61)
Al Qadhi Abu Yusuf –rahimahullah- (w 182) berkata, “Saya tidak shalat dibelakang seorang Jahmi, Rafidhi (penganut syi’ah rafidhah) dan qadari (penganut qadariyyah).” (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah, 4/733)
Imam Syafi’i –rahimahullah- (w 204) berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun dari kalangan pengekor hawa nafsu yang paling berdusta dalam pengakuan dan paling palsu dalam kesaksian melebihi orang-orang rafidah.” (Ibnu Bathah dalam Al Ibanah Al Kubra, 2/545)
Muhammad bin Yususf Al Faryabi –rahimahullah- (w 212) berkata, “Saya tidak memandang orang-orang rafidhah dan jahmiyah melainkan kezindikan (kufur).” (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah, 8/1457)
Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- (w 241) ketika ditanya oleh anak beliau Abdullah bin Ahmad perihal orang yang mencela seorang sahabat Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berkata, “Aku tidak memandangnya berada diatas Islam.” (Sunnah, Al Khallal, 1/493)
Imam Bukhari –rahimahullah- (w 256) berkata, “Aku shalat dibelakang seorang jahmi atau rafidhy sama dengan shalat dibelakang yahudi atau nasrani. Tidak boleh mengucapkan salam kepada mereka, membantu mereka, menikah, memberi kesaksian dan memakan sembelihan-sembelihan mereka.” (Khalq af’aal Al Ibaad, hal. 125)
Abu Bakar Ibnul Arabi –rahimahullah- (w 543) berkata, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak merasa ridha dengan para sahabat Nabi Musa dan Nabi Isa. Orang-orang rafidhah pun tidak merasa ridha dengan para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mereka menghukumi bahwa para sahabat Nabi itu telah bersepakat dalam kekufuran dan kebatilan.” (Al ‘Awashim wal Qawashim, hal. 192)
Ibnul Jauzi –rahimahullah- (w 597) berkata, “Sikap berlebihan orang-orang rafidhah dalam mencintai Ali radhiyallahu ‘anhu telah membuat mereka mengarang hadis-hadis palsu yang sangat banyak tentang keutamaan Ali, yang kebanyakannya malah menjelekkan Ali. Mereka juga memiliki madzhab-madzhab dalam fikih yang dibuat-buat, khurafat-khurafat yang menyelisihi ijma dalam banyak permasalahan … Keburukan-keburukan rafidhah tidak terhitung jumlahnya.” (Talbis Iblis, hal. 136-137)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- (w 728) berkata, “Allah mengetahui, dan cukuplah Allah yang Mahamengetahui, tidak adalah dalam seluruh kelompok yang menisbatkan kepada Islam dengan kebid’ahan dan kesesatan yang lebih parah dari mereka (orang-orang syi’ah rafidhah), tidak adalah yang lebih bodoh, lebih pendusta, lebih zalim, lebih dekat kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, serta lebih jauh dari hakikat iman melebihi mereka (orang-orang syi’ah rafidah).” (Minhaj Sunnah, 1/160)
Beliau juga berkata, “Mereka orang-orang rafidah itu, jika tidak munafik, maka bodoh. Tidak ada orang jahmiyah dan tidak ada orang rafidhah kecuali ia itu munafik atau bodoh dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada satu pun dari mereka yang alim tentang ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Minhaj Sunnah, 1/161)
Ibnul Qayyim –rahimahullah- (w 751) berkata, “Orang-orang rafidah mengeluarkan kekufuran, celaan terhadap para tokoh sahabat, golongan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para pembela dan penolongnya dibalik nama cinta terhadap ahli bait, fanatisme dan loyalitas terhadap mereka.” (Ighastatul Lahfaan, 2/75)
Ibnu Katsir –rahimahullah- (w 774) berkata, “Akan tetapi mereka itu (orang-orang syi’ah rafidhah) adalah kelompok yang sesat, golongan yang rendah, mereka berpegang kepada dalil-dalil yang mutasyabih (samar) dan meninggalkan perkara-perkara yang muhkamah (jelas) disisi para ulama Islam.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 5/251)
Komisi Tetap Untuk Fatwa dan Riset Kerajaan Saudi Arabia ditanya tentang akidah Syi’ah, mereka menjawab, “Aliran Syi’ah imamiyyah itsna asyriyyah adalah madzhab bid’ah dalam Islam, pokoknya dan juga cabangnya.”
Dalam fatwa yang lain, “Sesungguhnya Syi’ah Imamiyyah itsna ‘asyriyyah telah menukilkan dalam buku-buku mereka dari tokoh-tokoh mereka bahwa Alquran yang dikumpulkan oleh Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu anhu melalui para penghapal Alquran di kalangan para sahabat itu terjadi perubahan dengan tambahan dan pengurangan serta penggantian sebagian kata dan kalimatnya, begitu pula dengan penghapusan sebagian ayat dan surat. Hal itu terdapat dalam kitab “Fashlul Khithab fii Tahriif Kitab Rabbil Arbaab” yang ditulis oleh Husain bin Muhammad Taqiyyun Nuri Ath Thabrasi tentang perubahan Alquran. Begitu juga dalam buku-buku yang lain yang ditulis untuk membela rafidah dan mendukung aliran mereka seperti “Minhaj Al Karamah” karya Ibnul Muthahhir.
Mereka juga berpaling dari kitab-kitab sunnah yang shahih seperti shahih Bukhari dan Muslim. Mereka tidak menganggapnya sebagai rujukan dalam berdalil atas hukum-hukum, baik dalam masalah akidah atau pun fikih. Mereka juga tidak memakainya dalam menafsirkan dan menjelaskan Alquran …” (1/268 fatwa no. 9420)
[Diringkas dari artikel www.dd-sunnah.net berjudul “Maa Qaalahu al Ulamaa` fii Diini asy Syii’ah al Mujrimiin”]

Pengakuan Ulama Syiah

By  
syiah2
DAHULU pernah terjadi kesepakan antara ulama Syiah dan ulama Sunni untuk mengadakan sebuah diskusi, terkait dengan ajaran Syiah. Tempat dan waktu pun ditentukan. Diskusi dihadiri dan melibatkan tujuh orang ulama dari Sunni dan tujuh ulama dari Syiah.
Selang beberapa hari setelah kesepakatan itu, tepat pada hari dan waktu yang telah ditentukan ulama-ulama syiah pun hadir, lengkap tujuh orang, di dalam sebuah ruangan. Namun, entah karena alasan apa tak satupun ulama dari Sunni muncul. Para ulama Syiah pun menunggu. Setelah lama menunggu, orang yang ditunggu-tunggu tidak muncul-muncul juga, tidak ada tanda-tanda mereka akan datang.
Namun, setelah menunggu lama tiba-tiba masuk seorang masuk dengan sepatu yang ditenteng bawah ketiaknya. Para ulama Syiah pun terheran-heran, lantas bertanya:
“Mengapa kau membawa masuk sepatumu ke ruangan ini?”
Orang yang ditanya lantas menjawab: “Setahu saya, di zaman Rasulullah orang-orang syiah suka mencuri sandal.”
Ulama Syiah pun saling pandang antara satu dengan lainnya dengan pandangan heran. Lalu mereka berkata: “Tapi di zaman Rasul belum ada Syiah.”
“Kalau begitu diskusi kita telah selesai. Dari manakah datangnya ajaran agama kalian kalau di zaman Rasulullah tidak ada Syiah,” Jawab laki-laki itu dengan brilian.
Tenyata orang yang datang membawa sepatu tersebut adalah Syaikh Ahmad Deedat Rahimahullah, penulis buku fenomenal The Choice. [Pz/Islampos]

Ini Bukti-Bukti Kontribusi Yahudi Untuk Iran

By  
netanyahu - ahmadinejad
YAHUDI  adalah salah satu akar sejarah masyarakat Iran. Sebab, merekalah salah satu penduduk tertua yang sudah menghuni tanah Persia sejak negeri itu masih membangun peradaban.
Seperti dikutip Iran Online, orang Yahudi masuk ke Iran sejak tahun 727 sebelum masehi. Mereka yang memasuki Iran adalah Yahudi yang terdeportasi oleh kekuasaan Raja Asiria (Babilonia), Saragon II. “Mereka terdeportasi dari Isarel setelah gagal melawan Asiria,” tulis Iran Online.
Akibat kekalahan ini, sekitar 27.290 orang Yahudi dipaksa menetap di Persia. Gelombang kedatangan Yahudi ke Persia makin besar ketika moyang bangsa Israel ini terusir oleh Raja Nebukadnezar. “Mereka (Yahudi) pelarian dari Asiria kemudian menetap di Isfahan,”
Para pelarian Yahudi di masa Babilonia inilah yang jadi bagian sejarah Persia. Mereka, terutama  imigran Yahudi di Isfahan, mampu menata peradaban.
Tidak heran, Isfahan kini menjadi kota terbesar ketiga di Iran kini. Isfahan kini dihuni lebih dari 2 juta jiwa. Beberapa di antaranya memiliki garis darah Yahudi.
Periode penting bagi kaum Yahudi di tanah Persia (sekarang Iran), terjadi ketika Koresh Agung mampu menaklukkan Babilonia di tahun 586 sebelum masehi. Inilah menjadi tonggak awal berdirinya kekaisaran persia.
Keberhasilan Koresh menaklukkan Babilonia dengan sedikit perlawanan, membuatnya terpilih sebagai penguasa baru di kawasan Persia hingga tanah Israel. Raja Persia ini pantas berterima kasih kepada masyarakat Yahudi karena sudah mendukung penuh usahanya menaklukkan Babilonia.
Di bawah kepemimpinan  Koresh, Yahudi seperti mendapatkan angin. Mereka yang telah melarikan diri semasa era Babilonioa, kini diizinkan pulang ke Jerusalem. “Sekitar 30 ribu Yahudi (Persia) kembali ke untuk membangun kuil Jerusalem,” tulis Iran Online.
Di masa awal perkembangan kerajaan Persia inilah, Yahudi mulai menancapkan gigi dari segi politik. Kebijakan Persia saat itu mendorong otonomi bagi masyarakat Yahudi mampu membangkitkan Israel dari “tidur” panjangnya.
Hal itulah yang menjadi salah satu tonggak awal kembalinya eksistensi politik Yahudi di muka bumi. Jasa Kopresh ini yang membuat orang Yahudi berhutang budi. Karena kalau bukan karena jasa Raja Persia ini, Yahudi bisa jadi lenyap dari muka bumi pada abad kelima sebelum masehi.
Sejak periode 500 an sebelum masehi hingga kini, Yahudi pun tetap bercokol. Bahkan di abad ke 21, Yahudi dengan negaranya Israel mampu tampil sebagai salah satu kekuatan utama dunia.
Sejak paham Syiah dianut di abad 16, kehidupan Yahudi dan Iran ibarat naik turun. Yahudi sempat jadi korban diskriminasi. Beberapa kali, Yahudi, kristen, dan umat agama lain, menerima tindakan berbeda dari pemerintah Iran.
Namun, di abad ke 19, Yahudi kembali bangkit di Iran. Saat itu, Kebijakan Iran adalah memberi Yahudi posisi hidup setara dengan masyarakat Iran lain yang mengantut syiah.
Bahkan seorang pemimpin Iran, Reza Shah Pahlevi sangat menghormati Yahudi. Dalam sebuah kunjungannya ke komunitas Yahudi di Isfahan, Reza sempat berdoa dan membungkuk kepada Yahudi.
“Reza Pahlevi menjadi pemimpin Iran yang paling dihormati Yahudi setelah Koresh Agung,” ujar Iran Online. Apa yang disebut laman Iran itu tidak terlepas membaiknya hubungan Iran Yahudi di masa itu.
Persahabatan Yahudi dengan Iran makin terasa di tahun 1970-an. saat itu, komunitas Yahudi mengibarkan bendera kebangsaan Iran saat negara itu bertanding sepak bola melawan tim nasional Israel. “Walau begitu beberapa orang Iran ini sempat dipukuli penonton Iran lain,” tulis Iran Online.
Sekalipun makin terpinggir selepas tahun 1970-an, kontribusi Yahudi untuk Iran tetap besar. Masyarakat Yahudilah yang berperan dalam menjaga kesenian kuno Iran. Sebab, Yahudi adalah salah satu peletak dasar budaya Iran sejak abad kelima sebelum masehi. “Yahudilah yang berjasa melestarikan musik Iran kuno, terutama saat pemerintah Iran membatasi musik,” tulis Iran Online.
Hingga saat inipun, ritual kebudayaan Iran kuno masih tetap dipelihara oleh orang Yahudi. Bahkan kkubudayaan Iran kuno dirayakan masyarakat Yahudi dengan sebuah festifal bernama Illanout.
Sejak revolusi Islam Iran tahun 1979, Yahudi mendapat kesempatan untuk mengirim seorang perwakilannya di parlemen. Yahudi Iran juga tetap memiliki kesempatan untuk menempuh kegiatan di Universitas utama di Iran.
Kendati saat ini sang presiden Mahmud Ahmadinejad berseberangan dari segi politik dengan Israel, namun hal itu tidak menghapus fakta bahwa Yahudi dan Iran tetap terkoneksi. Koneksi Yahudi Iran tercermin lewat sejarah, budaya, hingga masyarakatnya.[lppi makassar]

'Revolusi Iran Telah Gagal’

By  
islampos.com—REVOLUSI Iran selama ini digadang-gadangkan sebagai revolusi tersukses yang dilakoni Negara Persia tersebut. Bahkan Iran mengklaim revolusi di penghujung tahun 70 tersebut sebagai sebuah revolusi yang akan membawan kejayaan Islam. Padahal, kenyataannya revolusi tersebut tidak lebih sebagai revolusi Syiah yang memakan anak kandungnya sendiri dimana ratusan ribu jiwa anak dan orangtua telah menjadi korbannya.
“Jadi revolusi Iran itu adalah revolusi termahal yang memakan anak kandungnya sendiri. Presidennya sendiri (Bannisadr, red.) digulingkan oleh Khomeini. Lari terbirit-birit dan sampai sekarang tidak tahu dimana nasibnya. Kemudian perdana menterinya Sadeq Gotbzadeh dihukum gantung, karena apa? tidak sejalan dengan Khomeini,” tegas Prof. Baharun, pengamat gerakan Syiah.
Oleh karenanya, menurut Prof. Baharun adalah salah besar jika kita menganggap Khomeini seorang pemimpin yang sukses, karena Khomeini tidak lebih pemimpin bertipe diktator, “Apanya yang istimewa dari Khomeini? Tidak ada. Opini itu dibentuk sedemikian rupa dan berkembang melalui buku, pers, sehingga seolah-olah syiah itu hebat,” tambahnya yang kini aktif ke berbagai daerah membongkar kesesatan Syiah ini.
Tidak pula dengan sosok Ahmadinejad. Rekam jejak Presiden yang disanjung-sanjung banyak orang ini ternyata patut dipertanyakan. Sebab di Iran sendiri, kini masyarakat hidup menderita. Kesulitan ekonomi tak jarang membuat warga Iran menjadi Bandar sabu yang banyak tertangkap di Indonesia. Padahal sumberdaya di Iran relatif banyak.
“Seharusnya Iran itu seperti Negara-negara di Timur Tengah lainnya, yang bisa memakmurkan rakyatnya. Tapi banyak rakyatnya imigrasi ke Australia. Bahkan banyak yang jadi bandar sabu-sabu. Ini menandakan bahwa revolusi Iran itu gagal,” sambung Profesor yang telah lama melakukan penelitian dan diskusi dengan orang-orang Syiah ini.
Inilah yang kian memperkuat bahwa revolusi Iran tidak membawa rahmat tapi musibah bagi rakyatnya. “Namun euforia itu sengaja dikembangkan. Supaya rakyat itu lupa dengan penderitaanya,” tandasnya. [Pz/islampos]

Ini Dia Bukti Syiah Bukan Dari Islam By Saefullah


DI kalangan kita Banyak yang mengatakan bahwa Syiah itu bagian dari Islam. Ternyata itu salah.
Ternyata Syiah bukan Islam, Syiah Punya agama tersendri.
Berikut ini adalah perbedaan yang sangat menonjol antara agama Islam dengan agama syi’ah, yang dengannya mudah-mudahan kaum muslimin dapat mengetahui hakikat sebenarnya ajaran agama Syi’ah.
1. Pembawa Agama Islam adalah Muhammad Rasulullah.
1. Pembawa Agama Syi’ah adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ Al Himyari. [Majmu' Fatawa, 4/435]

2. Rukun Islam menurut agama Islam:
1. Dua Syahadat
2. Sholat
3. Puasa
4. Zakat
5. Haji
[HR Muslim no. 1 dari Ibnu Umar]

2. Rukun Islam ala agama Syi’ah:
1. Sholat
2. Puasa
3. Zakat
4. Haji
5. Wilayah/Kekuasaan
[Lihat Al Kafi Fil Ushul 2/18]

3. Rukun Iman menurut agama Islam ada 6 perkara, yaitu:
1. Iman Kepada Allah
2. Iman Kepada Malaikat
3. Iman Kepada Kitab-Kitab
4. Iman Kepada Para Rasul
5. Iman Kepada hari qiamat
6. Iman Kepada Qadha Qadar.

3. Rukun Iman ala Agama Syi’ah ada 5 Perkara, yaitu:
1. Tauhid
2. Kenabian
3. Imamah
4. Keadilan
5. Qiamat

4. Kitab suci umat Islam Al Qur’an yang berjumlah 6666 ayat (menurut pendapat yang masyhur).
4. Kitab suci kaum Syi’ah Mushaf Fathimah yang berjumlah 17.000 ayat (lebih banyak tiga kali lipat dari Al Qur’an milik kaum Muslimin).[Lihat kitab mereka Ushulul Kafi karya Al Kulaini 2/634]

5. Adzan menurut Agama Islam:
(Allōhu akbar) 4 kali
(Asyhadu allā ilāha illallōh) 2 kali
(Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh) 2 kali
(Hayya ‘alash Sholāh) 2 kali
(Hayya ‘alal falāh) 2 kali
(Allōhu akbar) 2 kali
(Lā ilāha illallōh) 1 kali
5. Adzan Ala Agama Syi’ah:
(Allōhu akbar) 4 kali
(Asyhadu allā ilāha illallōh) 2 kali
(Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh) 2 kali
(Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullōh) 2 kali
(Hayya ‘alash Sholāh) 2 kali
(Hayya ‘alal falāh) 2 kali
(Hayya ‘alā khoiril ‘amal) 2 kali
(Allōhu akbar) 2 kali
(Lā ilāha illallōh) 2 kali

6. Islam meyakini bahwa sholat diwajibkan pada 5 waktu.
6. Agama Syi’ah meyakini bahwa sholat diwajibkan hanya pada 3 waktu saja.

7. Islam meyakini bahwa sholat jum’at hukumnya wajib. [QS Al Jumu'ah:9]
7. Agama Syi’ah meyakini bahwa sholat jum’at hukumnya tidak wajib.

8. Islam menghormati seluruh sahabat Rasulullah dan meyakini mereka orang-orang terbaik yang digelari Radhiallohu ‘Anhum oleh Allah. [QS At Taubah:100]
8. Agama Syi’ah meyakini bahwa seluruh sahabat Rasulullah telah kafir (Murtad) kecuali Ahlul Bait (versi mereka), salman Al Farisi, Al Miqdad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Ghifari. [Ar Raudhoh Minal Kafi Karya Al Kulaini 8/245-246]

9. Islam meyakini bahwa Abu Bakar adalah orang terbaik dari umat ini setelah Rasulullah, kemudian setelahnya Umar bin Al Khatthab, lalu Utsman bin ‘Affan, lalu ‘Ali bin Abi Thalib.
9. Agama Syi’ah meyakini bahwa orang terbaik setelah Rasulullah adalah Ali bin Abi Thalib, adapun Abu Bakar dan Umar bin Al Khatthab adalah dua berhala quraisy yang terlaknat. [Ajma'ul Fadha'ih karya Al Mulla Kazhim hal. 157].

10. Islam meyakini bahwa Abu bakar adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah.
10. Agama Syi’ah meyakini bahwa orang yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah adalah Ali bin Abi Thalib.

11. Islam meyakini bahwa Abu Bakar adalah khalifah pertama yang sah.
11. Agama Syi’ah memposisikan Abu Bakar sebagai perampas kekhalifahan dari ‘Ali bin Abi Thalib

12. Islam meyakini bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan, ‘Amr bin Al ‘Ash, Abu Sufyan termasuk sahabat Rasulullah
12. Agama Syi’ah meyakini bahwa mereka pengkhianat dan telah kafir (Murtad) dari Islam.

Semua yang kami sampaikan ini bersumberkan dari kitab-kitab yang mereka jadikan rujukan dan sebagiannya dari situs resmi mereka. [haulasyiah]