Followers

Sunday, 4 August 2013

JIHAD dan Terrorisme

JIHAD dan Terorisme

Secara bahasa, JIHAD berasal dari ja-ha-da. Suatu usaha maksimal yang sanggup dikerahkan untuk menunaikan suatu urusan. JIHAD adalah perlambang puncak usaha manusia untuk mencapai sesuatu. Dalam jihad ini, pengorbanan apapun akan disanggupi, termasuk pengorbanan nyawa. Pasukan Jepang yang melakukan aksi Kamikazepada Perang Dunia II, dengan menabrakkan pesawat ke kapal-kapal Amerika. Mereka bisa dianggap telah berjihad. Hanya saja, jihadnya untuk membela berhala (Kaisar Hirohito). Sedangkan Jihad Fi Sabilillah, diartikan sebagai perjuangan maksimal untuk menegakkan Kalimah Allah di muka bumi. Para ulama, mengidentikkan Jihad Fi Sabilillah dalam Al Qur’an sebagai perang melawan orang-orang kafir dalam membela agama Allah.
JIHAD adalah perkara yang suci. Ia adalah bagian dari risalah langit untuk menjaga, memelihara, dan menegakkan agama Allah di muka bumi. Jihad adalah instumen yang Allah turunkan untuk memelihara agama-Nya, melalui tangan-tangan hamba-Nya. Jihad bukan perkara baru dalam ajaran Nabi Muhammad Saw. Ia telah dikenalkan sejak Nabi dan Rasul, sebelum beliau. Musa, Harun, Danial, Dawud, Sulaiman‘alaihimus salam, dan lain-lain adalah Nabi-nabi yang pernah terjun berjihad di medan laga.
Dalam Al Qur’an, “Berapa banyaknya Nabi yang berperang bersamanya kaum Rabbani yang banyak. Mereka tidak menjadi gentar karena berbagai cobaan yang menimpanya di jalan Allah; dan tidak pula mereka menjadi lemah dan menyerah. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar.” (Ali Imran: 146).
Dalam riwayat diceritakan. Ada seorang Nabi yang berperang memimpin Ummatnya menghadapi orang-orang kafir. Sebelum musuh dikalahkan, ternyata matahari hampir terbenam. Padahal dalam aturan perang waktu itu, kalau matahari sudah terbenam, seluruh peperangan harus dihentikan. Maka Nabi itu segera memerintahkan matahari berhenti berputar. Dia meminta matahari tidak terbenam dulu, sampai dia dan pasukannya berhasil mengalahkan musuh.
Kedudukan JIHAD bersifat suci, luhur, mulia. Keberadaannya dibatasi oleh adab-adab Syariat. Misalnya, dalam peperangan melawan orang-orang kafir, pasukan Islam tidak boleh menghancurkan rumah-rumah ibadah, tidak boleh menghancurkan ternak, tanam-tanaman, tidak boleh menganiaya orangtua, anak-anak, dan kaum wanita. Tidak boleh mengejar musuh yang melarikan diri, tidak boleh membunuh tentara yang menyerah, berperang sesuai kesepakatan dengan musuh, dll. Hal ini menjadi bukti nyata, bahwa JIHAD bukan urusan “kacangan” yang bisa dilakukan sesuka hati. Ia benar-benar dibingkai dengan adab yang luhur.
SEKILAS HUKUM JIHAD
Disini kita perlu memahami secara ringkas hukum-hukum seputar JIHAD. Antara lain sebagai berikut:
[1] Secara umum jihad dibagi dua: jihad thalabi (jihad menyerang) dan jihad difa’i (jihad mempertahankan diri). Perang Badr. Uhud, dan Ahzab adalah masuk kategori jihad bertahan. Sedangkan perang Hunain, Fathu Makkah, perang Mu’tah, perang Yarmuk, perang Qadisiyyah, dan lain-lain adalah jihad menyerang (offensive).
[2] JIHAD menyerang tidak boleh dilakukan, melainkan di bawah komando seorang Imam kaum Muslimin di suatu negara Islam. Pengumuman jihad harus disampaikan secara terbuka, kepada masyarakat negara itu dan kepada dunia luar. Alasan jihad menyerang tidak menjadi penentu, bahkan kaum Muslimin boleh menyebarkan Islam melalui JIHAD ini. Hal itu sudah dilakukan oleh para Salafus Shalih. Khalifah Umar Ra. termasuk pemimpin Islam yang dicatat sejarah memiliki prestasi gemilang dalam menunaikan JIHAD perluasan wilayah Islam. Hanya saja, perhitungan kekuatan yang sangat cermat dibutuhkan, untuk memastikan apakah suatu negara Islam sanggup menggelar JIHAD offensive atau tidak.
[3] JIHAD untuk mempertahankan diri (defensive). Ia dibutuhkan oleh kaum Muslimin ketika menghadapi musuh-musuh yang melakukan agresi atau invasi. Baik ada atau tidak ada Imam kaum Muslimin, wajib hukumnya kaum Muslimin mempertahankan diri, agama, harta benda, kehormatan, dan kehidupannya. Dalam perang Badr, Uhud, dan Ahzab, Nabi Saw telah menunjukkan cara terbaik dalam mempertahankan diri. Begitu juga JIHAD bangsa Indonesia menghadapi kolonial Belanda dan Jepang, adalah fakta JIHAD defensive yang tidak diragukan lagi. Termasuk JIHAD bangsa Palestina, Afghanistan, Irak, Chechnya, dan lainnya. Dalam konteks pembelaan diri, hukum internasional pun mengakuinya. Salam konteks pertahanan, kita mengenal istilah “Hak Bela Negara”. Pada negara-negara tertentu, mereka malah menerapkan hukum “Wajib Militer” untuk mengantisipasi kebutuhan negara terhadap tenaga-tenaga pertahanan. Jadi mempertahankan diri itu sudah merupakan sesuatu yang lumrah, jika diserang.
[4] Ummat Islam juga mengenal istilah jihad di luar konteks perang. Ia adalah jihad berupa kesungguhan beramal di bidang apapun, dalam rangka menegakkan agama Allah di muka bumi. Seorang ustadz yang berdakwah ke pedalaman untuk mengislamkan orang pedalaman, dianggap berjihad; para aktivis yang berjuang mempertahankan nasib Ummat dari gerakan pemurtadan, juga dianggap berjihad; para ilmuwan Muslim yang sungguh-sungguh menggali ilmu, menyebarkan ilmu, menyebarkan penerangan Islami, juga dianggap berjihad; para pendidik dan kaum wanita yang sungguh-sungguh mendidik generasi Muslim, juga berjihad; para saudagar Muslim yang sungguh-sungguh berjuang memperkuat kepemilikan aset harta Ummat, juga berjihad; dan lain-lain. Hingga seorang wanita Muslimah yang melahirkan putra-putri Muslim, wanita yang menunaikan Haji dan Umrah, mereka juga dianggap berjihad. Ini adalah jihad dalam rangka pelayanan Islam, meskipun bentuknya bukan perang di medan laga.
Dalam hadits Nabi Saw. disebutkan, “Siapa yang berperang dalam rangka meninggikan Kalimah Allah (di atas kalimat-kalimat lainnya), maka dia berada Fi Sabilillah.” (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Musa Al Asy’ari Ra).
Jika demikian, maka jelaslah bahwa JIHAD itu hanya berurusan dengan perkara-perkara yang benar, lurus, dan mulia. JIHAD tidak berhubungan dengan aksi-aksi terorisme sebagaimana yang kerap kita saksikan.




MEMAHAMI TERORISME
Menurut kamus Oxford, terror memiliki arti: A person, situation or thing that makes you very afraid (seseorang, situasi, atau sesuatu yang membuatmu sangat takut); Violent action or the threat of violent action that is intended to cause fear, usually for political purposes (aksi kekerasan atau ancaman kekerasan yang dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan, biasanya untuk tujuan-tujuan politik). Sedangterrorism diartikan sebagai: the use of violent action in order to achieve political aims or to force a government to act (penggunaan aksi kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan politik atau untuk menekan pemerintah agar berbuat sesuatu).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan tentang karakter teror atau terorisme, yaitu: Menggunakan cara kekerasan; menimbulkan rasa takut di hati sasaran terror; dan memiliki tujuan politik tertentu.
Kalau diteliti lebih dalam, akan ditemukan perbedaan-perbedaansignificant antara JIHAD dengan TERORISME, antara lain:
+ JIHAD: Untuk menegakkan Kalimah Allah di muka bumi.
+ TERORISME: Mencoreng citra Islam di mata ummat manusia.
+ JIHAD: Dilakukan dengan alasan-alasan yang jelas. Misalnya, dalam rangka membela diri atau memperluas wilayah Islam.
+ TERORISME: Dilakukan dengan tanpa alasan yang jelas, selain penafsiran-penafsiran sepihak atas masalah-masalah politik tertentu.
+ JIHAD: Diikat oleh adab-adab yang ketat. Misalnya, jihad tidak mengarahkan sasaran ke kalangan sipil atau orang-orang lemah.
+ TERORISME: Tidak diikat oleh adab apapun, selain tujuan menghancurkan sasaran dengan cara apapun.
+ JIHAD: Diawali dengan kepastian suatu konflik antar negara. Konflik itu harus pasti dulu, baik melalui pengumuman perang, maupun melalui tindakan penyerangan yang dilakukan suatu negara agresor.
+ TERORISME: Tidak jelas kapan konflik itu resmi dimulai, dan kapan pula ia akan berakhir.
+ JIHAD: Rata-rata berhubungan dengan posisi suatu negara dalam kancah konflik politik dengan negara-negara lain.
+ TERORISME: Bisa dilakukan oleh siapapun, baik pribadi, kelompok, atau milisi-milisi tertentu.
Secara metode terorisme itu dilakukan dengan menciptakan rasa takut di hati masyarakat sipil yang tidak tahu apa-apa. Sementara JIHAD dilakukan di atas konflik yang sudah sama-sama dipahami dan tidak memiliki tujuan menciptakan rasa takut ke masyarakat sipil, namun mengalahkan musuh tertentu.


JIHAD tidak akan mati, meskipun manusia telah berkumpul dan bersepakat untuk mematikannya. Namun TERORISME bisa padam jika kita sungguh-sungguh memberantasnya, serta keadilan di muka bumi di tegakkan. Selama ini, pemberantasan terorisme lebih tampak sebagai upaya untuk menjelek-jeleknya citra Islam. Di sisi lain, terorisme ingin diberantas, tetapi alasan-alasan bagi munculnya terorisme itu tidak pernah diberantas. Kezhaliman terjadi merajalela dimana-mana. “Tegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat dunia, maka terorisme tidak akan muncul dalam segala bentuknya!!!
Wallahu A’lam bisshawaab.

Posted & copy by Bersama Kepimpinan Ulama'(poklan58.blogspot).

Saturday, 3 August 2013

POLITIK DALAM ISLAM


Politik dan Islam tidak dapat dipisahkan, justeru ia adalah sebahagian daripada cara hidup manusia.  Namun politik yang bagaimana?  Ini yang menjadi persoalan.  Sebahagian daripada pejuang Islam sendiri kabur dengan makna dan kehendak politik sebenarnya.  Mereka terikut-ikut dengan aliran politik barat dan mengharapkan Islam dapat ditegakkan dengan cara itu.  Malah mereka marah jika ada pejuang Islam lain yang tidak mahu terjebak dengan perangkap musuh-musuh Islam melalui bidang politik tajaan orang-orang kafir. 
Mengapa ini terjadi? Ini disebabkan umat Islam tidak pernah didedahkan kepada  satu bentuk politik yang bersih, kuat dan stratejik.  Kini sudah tiba masanya kita mendedahkan apa itu politik Rasulullah dan bagaimana matlamat serta perlaksanaannya.  Jarang benar ketokohan Rasulullah SAW ditonjolkan dalam bentuk bagaimana  baginda berpolitik untuk menaikkan Islam di tengah jahiliah.  Bagaimana ia  memproses peribadi-peribadi yang dulunya menentang Islam?  Ke arah cinta dan sanggup mati kerana Islam.  Jika rahsia ini terserlah, ertinya semakin cerahlah jalan ke arah mencontohi Rasulullah sebagai ahli politik. 
Politik ialah bagaimana hendak mentadbir manusia mengikut jalan dan matlamat yang telah ditentukan.  Politik Islam bercita-cita untuk mendidik dan membawa manusia supaya mempunyai kesedaran, kefahaman, penghayatan dan seterusnya dapat menegakkan kalimatullah di seluruh bidang kehidupan.  Ini dibuat melalui saranan, contoh tauladan, memberi pimpinan dan lain-lain cara yang dibolehkan oleh syariat.  Tujuannya agar semua manusia terhindar daripada Neraka dan dapat masuk ke dalam Syurga. 
Jadi, inilah garis politik Rasulullah.  Dan di bidang ini tiada siapa yang dapat menandingi baginda.  Rasulullah SAW tidak memimpin secara politik demokrasi, secara diktator atau pun secara autokrasi.  Dengan kefahaman yang tinggi tentang jiwa, akal, dan perasaan manusia, Rasulullah SAW telah berjaya memimpin secara fitrah.  Maksudnya, Rasulullah SAW membawa manusia ke jalan yang diyakininya tanpa paksaan dan tekanan.  Ia mampu memindahkan hasrat yang terpendam dilubuk hatinya menjadi hasrat orang lain.  Ertinya politik Rasulullah ialah politik dari hati ke hati. 
Allah berfirman: 
"Tiada paksaan dalam agama, sesungguhnya telah nyata kebenaran daripada kesesatan."



Atas dasar ini, Rasulullah SAW berjaya menawan jiwa manusia dan daripada situlah seluruh harta, tenaga dan nyawa pengikut-pengikutnya diserah bulat-bulat untuk Islam. 
Di antara fitrah semulajadi manusia ialah mahu pandangannya dihormati dan dihargai.  Rasulullah sedar hakikat ini.  Oleh itu apabila Rasulullah berhadapan dengan ahli ekonomi seperti Abd Rahman bin Auf, yang minat serta kecenderungannya di bidang perniagaan, beliau memupuk bakat itu supaya terus subur dan berkembang.  Akhirnya Abdul Rahman Bin Auf pun menjadi pengusaha yang berjaya. 
Bila Rasulullah SAW berhadapan dengan pakar di bidang ketenteraan seperti Khalid Al Walid, maka semangat perwiranya terus disuburkan ke arah jihad fisabilillah, kebalikan daripada semangat Assobiyah (Nasionalisma).  Bila baginda berhadapan dengan ahli fikir, pakar strateji dan kepala perancang seperti Umar IbnulKhattab, maka Rasulullah SAW terus mendorong ke arah bagaimana untuk menggunakan kepakaran itu buat kemenangan dan kejayaan Islam.  Oleh itu setiap individu di kalangan para sahabat akan rasa dihargai kerana bakat dan kelebihan semulajadinya berperanan dalam perjuangan Islam. Seorang buruh, petani, peniaga, pentadbir dan semua lapisan masyarakat telah disusun oleh Rasulullah SAW dalam satu barisan  yang mempunyai kegunaan dan peranan masing-masing. Atas dasar ini, jika ada gerakan Islam  yang menumpukan perhatian mereka kepada golongan 'elit' dan 'intelek' sahaja, perjuangan mereka sebenarnya telah menyimpang daripada sirah Rasulullah SAW.! 
Mari kita lihat secara dekat bagaimana individu-individu (yang mempunyai berbagai-bagai kepakaran) itu dapat diubah daripada membina jahiliyah (dengan kelebihan-kelebihan itu) kepada membina Islam. Sebelum para sahabat diajak menegakkan Islam melalui bidang masing-masing, Rasulullah terlebih dahulu menanam iman di dalam jiwa mereka.  Agar dengan itu mereka akan menjadi orang yang cintakan hidup akherat, rindu dengan syurga, gerun dengan neraka dan kasih sayang sesama Islam.  Keadaan daripada penanaman iman dan tauhid di dalam hati individu-individu itu, maka lahirlah peribadi-peribadi yang telah berubah wataknya.  Dari watak yang bengis dan kejam kepada kasih sayang dan pemaaf.  Daripada seorang yang pembohong, jahil dan mengutamakan hawa nafsu kepada seorang yang jujur, berilmu dan menegakkan hukum Allah. 
Tegasnya, Rasulullah SAW telah berjaya menukar mereka yang dulunya menyembah berhala kepada menyembah Allah.  Mereka yang dulunya terbiar, hidup dalam perhambaan dan terasuh dengan jalan yang salah oleh para pemimpin jahiliyyah kepada satu cara hidup dan perjuangan  di mana bakat semulajadi terus dipupuk dan dibajai. 
Daripada  penanaman iman ini lahirlah ahli fikir yang agung sedangkan dahulu ia adalah peminum arak.  Lahirlah pentadbir-pentadbir yang cekap sedangkan dahulunya mereka adalah golongan bawahan yang tertindas.  Individu-individu yang dulunya diperhambakan oleh hawa nafsu kini menjadi panglima perang yang gigih berperang menentang orang kafir dan menjadi abid yang sentiasa berzikir.  Inilah hasil siasah Rasulullah SAW. 
Soalnya sekarang, bagaimana Rasulullah SAW menanam Iman ke dalam jiwa para sahabat?  Bagaimana Rasulullah berjaya menukar watak-watak jahiliyyah kepada peribadi mukmin sekaligus dapat menggunakan bakat-bakat mereka untuk Islam?  Jawabnya, melalui dakwah dan tarbiah.  Untuk itu Rasulullah SAW datang ke tengah masyarakat dengan menyebarkan ilmu pengetahuan, memberi tunjukajar yang baik, lunak dan menarik, bijaksana, berakhlak serta membina model masyarakat yang disarankan melalui amal makrufat yang memberi menafaat kepada masyarakat. 
Dengan ini secara otomatik Islam akan diyakini sebagai cara hidup yang terbaik untuk mengatur kehidupan manusia.  Islam nescaya diterima sepenuhnya untuk mengatur dan menguruskan harta, perniagaan sawah ladang, keluarga, kampung halaman,  negeri, negara dan dunia seluruhnya. 
Apabila Islam diterima untuk mengatur kehidupan maka terbuktilah keindahan dan kegagahannya.  Bidang ekonomi ditadbir penuh jujur, cermat, cekap dan mendapat keuntungan yang lumayan .  Begitu juga di bidang pertanian, tanaman dan penternakan mendapat  hasil yang berkat oleh tangan petani yang beriman. Kampung ditadbir oleh ketua-ketua yang bijaksana sehingga terbinalah kampung seperti mana yang disifatkan oleh Allah Taala di dalam Al Quran: 
"Jikalau penduduk-penduduk satu kampung beriman kepada Allah dan bertakwa nescaya sesungguhnya Kami (Allah)akan bukakan ke atas mereka itu keberkatan daripada langit dan bumi." 
Begitu juga , Rasulullah SAW berjaya menghasilkan pentadbir-pentadbir peringkat negara sehingga tertegaklah apa yang difirmankan Allah: 
"Negara makmur yang mendapat keampunan Tuhan." 
Ini lah rahsia politik Rasulullah.  Bermula dengan tapak dakwah dan tarbiah yang menanamkan iman didalam hati sanubari setiap individu, sehinggalah keyakinan kepada ALlah, rasul dan hari akherat tergambar dalam sikap dan tindakan.  Tahap kedua ialah memupuk bakat dan kelebihan semulajadi yang ada pada individu-individu yang beriman itu dan mula mengatur bidang-bidang yang sesuai supaya bakat mereka terus berperanan.  Akhirnya mulalah satu bentuk kehidupan Islam yang menyeluruh dapat dilihat dan dirasakan oleh masyarakat.  Kemudian dengan sendirinya Islam akan diakui sebagai satu-satunya agama yang mampu mengatur hidup manusia. Ertinya politik Islam bermula daripada mentadbir diri, keluarga kemudian membina cara hidup Islam di seluruh aspek kehidupan samada di bidang  pertanian, perniagaan, perubatan, pendidikan dan akhirnya sampailah ke peringkat mengatur negara dan dunia! 
Bentuk politik yang beginilah yang wajib ada dalam gerakan Islam. Dan siapa yang menolaknya, ertinya ia telah memisahkan agama daripada politik.  Politik tidak boleh difahami secara dangkal mengikut kefahaman setengah-setengah pihak.  Politik bukanlah sekadar mengundi dalam pilihanraya "ala-demokrasi" Barat, bukan sekadar mendaftar sebagai anggota mana-mana pertubuhan politik atau sekadar mahu dan bercita-cita untuk menjadi anggota parlimen dan lain-lain lagi.  Jika fahaman-fahaman ini masih berakar umbi dalam kepala kita...ini  bererti kefahaman politik kita masih sekular, masih politik yang terpisah dari agama yang pada hakikatnya masih jauh daripada politik Rasulullah SAW. 



Secara terus terang kita ingin bertanya, adakah ahli-ahli politik beragama Islam sekarang mengikut jejak politik Rasulullah? Tidak ! Tidak ! Kebanyakan ahli politik pada hari ini mencedok bulat-bulat politik demokrasi Barat yang penuh dengan rebutan kuasa, guling mengguling dan tidak pernah sunyi dengan pertarungan sesama sendiri.  Mengapa ini terjadi? Ini disebabkan politik Barat mempunyai satu matlamat iaitu kuasa.  Dengan kuasa mereka yakin dapat mengatur hidup manusia mengikut lunas-lunas ideologi yang mereka yakini.  Kapitalis dahagakan kuasa untuk melagang cara hidup kapitalis, pemuja faham sosialis inginkan kuasa untuk menyusun masyarakat berdasarkan cara hidup sosialis... tetapi Islam tidak menganggap kuasa sebagai satu-satunya jalan untuk menegakkan cara hidup Islam. Ertinya pejuang Islam tidak perlu mencontohi pejuang Nasionalis, kapitalis, sosialis, kominis yang menganggap kuasa adalah penentu segala-galanya. 
Atas dasar ini, politik Rasulullah SAW bukan politik yang bertujuan untuk mendapat kuasa. Rasulullah berjuang terhadap orang kafir bukan hendak meruntuhkan kuasanya, tetapi hendak meruntuhkan akidah dan keyakinan yang karut marut dalam jiwa mereka.  Mereka boleh duduk pada tempat masing-masing . Bila akidah dan keyakinan berubah, berubahlah akhlak, sikap dan pentadbiran.  Sejarah telah membuktikan kejayaan politik Rasulullah ini, Khalid Al Walid pada masa jahiliyyah adalah panglima tentera yang menggugat tentera Islam, manakala beliau memeluk Islam, beliau tetap dikekalkan sebagai panglima tentera.  Saidina Umar, pada masa sebelum Islam adalah seorang pembesar Quraisy, manakala memeluk Islam, beliau tetap dianggap Rasulullah SAW sebagai pembesar juga. Begitulah juga yang berlaku kepada saudagar besar dan ketua-ketua suku Arab seperti Abdul Rahman bin Auf, Abu Sufian, Amru Al As dan lain-lain lagi.  Mereka tetap duduk dan terus berperanan dengan bakat masing-masing...cuma hati dan jiwa sahaja yang telah diubah! 
Alangkah baiknya jika siasah Rasulullah SAW ini dicontohi oleh para pejuang Islam sepanjang zaman, iaitu dengan menawan hati bukan menawan kerusi, 
mengubah jiwa bukan merampas kuasa. 
Malangnya ini tidak berlaku.  Bahkan ada pihak yang bertanya, adakah akan berjaya jika kita mengikut siasah Rasulullah?  Sampai bila kita harus menunggu untuk menawan hati dan mengubah jiwa manusia? Soalan-soalan ini jelas menunjukkan 
sikap gopoh, tidak faham dan lemah jiwa. 
Jika orang bertanya,  akan berjayakah kalau kita ikut cara Rasulullah berpolitik? 
Soalan ini samalah seperti kita bertanya adakah kita akan berjaya jika kita mengikut Rasulullah di bidang perniagaan?  Jawabnya,  Rasulullah memang berjaya.  Tidak ada catitan sejarah yang menunjukkan Rasulullah "bangkrup" dalam perniagaannya, sedangkan selama kita mengikut sistem perniagaan dan ekonomi Barat berapa ramai yang jatuh muflis? Berapa banyak hutang negara kita?  Berapa ramai taukeh-taukeh besar bertukar menjadi banduan sekelip mata?  Berapa banyak tanah yang dicagar di bank tergadai? Inilah jawapan kepada orang yang mahu mempertahankan sistem ekonomi Barat. 
Dan inilah juga yang akan menimpa jika kita terus menafikan sistem politik Rasulullah.  Kejayaan Rasulullah di bidang siasah telah jelas dan siapa yang menurut jejak langkahnya, InsyaAllah akan turut berjaya.  Tanpa bersusah-susah memerah otak untuk mencari punca krisis politik yang menimpa dunia hari ini, akui sahajalah kerana kita menolak sistem politik Rasulullah. 
Sukarno terperangkap dengan permainan politiknya sendiri dan akhirnya mati sebagai tahanan di dalam rumahnya sendiri. Benn Bella digulingkan dan disumbatkan di dalam penjara.  Sadat ditembak dan mati terhina di muncung senjata perajuritnya sendiri.  Dan ramai lagi pemimpin-pemimpin Islam yang telah, sedang dan akan jatuh terhina akibat berpolitik cara Barat iaitu cara politik yang menyalahi sunnah Rasulullah SAW. 
Malah pejuang-pejuang Islam yang benar-benar ingin menegakkan Islam tetapi masih menerima jalan politik Baratpun, turut terhina dengan kekalahan memanjang..... 
Politik berpilihanraya ala-barat bukanlah politik yang dicetuskan oleh sunnah.  Cara ini menyeret orang yang tidak tahu menahu dalam pemerintahan seperti orang kampung, para petani, para nelayan ke kancah politik yang penuh tipu daya dan putar belit..... 
Memang mereka boleh berhujah dengan kata-kata, "Politic is not dirty, but politicians make it dirty," tetapi kita tidak pernah melihat kejujuran dihargai dalam politik.  Memang ada ahli politik yang jujur, tetapi politik bukanlah satu medan yang mana orang jujur boleh bertahan lama!! 
Sebab itu kita ingin menyatakan bahawa," Politic is a dirty game, the politicians make it dirtier," Sudah lumrah mengikut falsafah politik barat, matlamat menghalalkan cara.  Sedangkan mengikut politik Islam, matlamat yang benar mesti diperjuangkan mengikut jalan yang benar.  Dan Islam menolak jalan perjuangan yang salah walaupun cita-cita dan matlamatnya baik. 
Inilah politik barat.  Satu bidang yang memang ada jurang yang dirancang di hujungnya.  Mahu tidak mahu, kita "terpaksa" jatuh ke dalamnya. Oleh itu kita mesti menolak 100% matlamat, kaedah dan apa saja yang berkaitan dengannya.  Menerimanya bererti menjemput kehinaan.  Bertolak ansur dengannya bererti rela menerima kemusnahan.  Sekarang timbul persoalan,  siapakah ahli siasah yang sebenarnya? 
Ahli siasah yang sebenarnya ialah dia yang dapat merancang, bertindak dan berjuang menegakkan Islam dalam apa keadaan sekalipun.  Rasulullah adalah 'Bapa Politik Islam'.  Baginda dapat mencari ruang di celah-celah asakan jahilyyah untuk menegakkan Islam.  Rencananya dapat menembusi dinding Darul Nadwah, "Parlimen" orang Arab  jahiliyyah dan berjaya menukar orang yang pernah duduk di kerusi Darul Nadwah menjadi "orang penting" dalam pemerintahan Islam. Sebab itu bukanlah mustahil jika ada pejuang Islam yang mampu mengubah tokoh-tokoh politik yang sedang berkuasa sekarang kepada cara pemerintahan dan pentadbiran Islam.  Sekali lagi, kita katakan....Ini tidak mustahil!!! 
Tetapi kenyataan ini akan menimbulkan isu kontravesial terutamanya di kalangan parti-parti politik yang bercorak Islam.  Apa yang dilakukan oleh parti-parti ini bukanlah hendak menawan hati lawannya dengan menanam iman dan takutkan Allah, tetapi hendak menawan kedudukan dan kerusi-kerusi kebesaran mereka.  Sebab itu tidak hairanlah jika datang tentangan yang hebat dari lawan mereka dan timbul tuduhan-tuduhan daripada masyarakat Islam yang mengatakan mereka inginkan pangkat dan kedudukan, bukan hendak meninggikan syariat Islam. 
Lebih-lebih lagi , parti-parti politik ini suka mencari kesalahan parti musuhnya, kemudian ditelanjangkan di khalayak ramai.  Ini bukan cara politik Rasulullah dan ini menyimpang terus dari ajaran Islam.  Jika kita terus menerus mengamalkan cara ini, percayalah, perjuangan kita tidak akan sampai ke mana, orang semakin hari semakin lari dan benci kepada kita.  Akibat daripada ini, kita tuduh masyarakat lari dari Islam, walaupun yang sebenarnya mereka lari daripada kita.  Sebaliknya di pihak masyarakat pula , mereka menganggap Islam itu ganas, kasar dan menyusahkan sedangkan yang sebenarnya ahli politik itulah yang bersikap demikian, bukan ajaran Islam! 
Pengalaman-pengalaman yang kita telah alami, terutamanya peristiwa-peristiwwa pahit yang melanda masyarakat Islam akibat perebutan kuasa sepatutnya telah lama mengajar kita bahawa inilah masa yang paling sesuai untuk kembali kepada sistem politik Rasulullah.  Masyarakat sepatutnya dapat menilai politik yang mana yang dapat memberi kebahgiaan dan keamanan untuk negara.  Apakah kita masih mahu mempertahankan sistem politik yang menimbulkan huru-hara?  Atau mulai saat ini kita menerima politik Rasulullah yang telah terbukti berjaya?  Terpulanglah kepada masyarakat menimbangkannya.


Posted & copy by Bersama Kepimpinan Ulama'(poklan58.blogspot)

BAGAIMANA SENINYA DAKWAH RASULULLAH



Sabda Rasulullah SAW “Manusia yang paling dikasihi Allah ialah orang yang memberi manfaat kepada orang lain dan amalan yang paling disukai oleh Allah ialah menggembirakan hati orang-orang Islam atau menghilangkan kesusahan daripadanya atau menunaikan keperluan hidupnya di dunia atau memberi makan orang yang lapar. Perjalananku bersama saudaraku yang muslim untuk menunaikan hajatnya, adalah lebih aku sukai daripada aku beriktikaf di dalam masjid ini selama sebulan, dan sesiapa yang menahan kemarahannya sekalipun ia mampu untuk membalasnya nescaya Allah akan memenuhi keredhaannya di dalam hatinya pada hari Qiamat, dan sesiapa yang berjalan bersama-sama saudaranya yang Islam untuk menunaikan hajat saudaranya itu hinggalah selesai hajatnya nescaya Allah akan tetapkan kakinya(ketika melalui pada hari Qiamat) dan sesungguhnya akhlak yang buruk akan merosakkan amalan seperti cuka merosakkan madu.” (Hadis Riwayat Ibnu Abi Dunya)
Perjuangan Islam itu sangat seni. Bukan semua orang nampak, sebab itu umat Islam huru hara di dunia ini. Berani sudah ada, usaha gigih, mana ada umat Islam tak berjuang? Semua gigih berjuang, ramai pula, tapi mana ada kejayaan? Makin hina sebab berjuang tidak ada seni. Sikit-sikit nak tembak orang, hennak mengata orang, itu bukan seni.
Islam itu halus dan berseni. Contohnya dengan dakwah boleh boleh mengetuk fitrah orang, boleh orang senang hati,tengok sahaja sudah jatuh hati. Itulah watak benda yang seni. Kalau kita berjuang tidak berseni, macam kita dengar orang pukul besi, dengar sahaja tidak larat, fikiran perasaan serabut pasal tidak seni. Berjuang yang tidak seni seperti pukul pahat sana sini, akhirnya sakit jiwa.

Islam itu seni. Mari kita lihat bagaimana seninya Rasulullah SAW,
Kisah 1 :
Satu hari baginda bawa Sayidina Umar. Rasulullah tahu Umar ini siapa. Umar ini berani, jiwa kuat, sebelum masuk Islam sudah pernah bunuh orang.
Satu hari Baginda mengajak Umar pergi tengah padang pasir, Rasulullah bawa ke satu lembah, wadi. Di situ ada bangkai unta, kuda, kambing, kepala manusia pun ada, tengkorak manusia pun ada.
Rasulullah kata, “Hai Umar apa kau lihat di sini, ini tempat busuk, bangkai binatang ada, manusia pun ada. Dulu mana ada undang bunuh, tangkap, bicara mana ada, bunuh campak sahaja”.
Bila Sayidina Umar lihat ada bangkai binatang dan manusia di situ, dia berkata pada Rasulullah,
“Ini bangkai wahai Rasulullah, campur antara bangkai manusia dan binatang”.
Rasulullah jawab, “inilah hakikat dunia, orang buru dunia senasib dengan yang kena buru”.
Ini seni. Mana ada tok guru yang ajar begini, kalau di masjid tok guru sekadar bersyarah, mana ada tok guru bawa murid lihat bangkai dan bersyarah depan bangkai tentang dunia?
Kisah 2 :
Berlaku juga di zaman Rasululah, orang-orang badwi yang baru peluk Islam, orang badwi ini tidak faham adab, tidak bertamaddun, walaupun dia masuk Islam tapi banyak lagi yg dia tidak faham. Satu hari dia berada di masjid, dia kencing dalam masjid. Rasulullah ada sahabat-sahabat pun ada. Walaupun badwi itu juga seorang sahabat tapi dia baru dididik.
Sahabat-sahabat yang lain apabila melihat keadaan itu naik berang juga, sedangkan wahyu belum sempurna, sahabat ikut apa yg turun waktu itu. Banyak yang mereka tidak tahu lagi, sebab itu ada sahabat yang marah, sahabat nak bertindak. Tapi Rasulullah kata, “Tidak apa, biarkan“. Kemudian Rasulullah yang cuci najis, buang, basuh, semua.
Itukan seni. Rasulullah SAW tidak marah, jadi sahabat-sahabat lain yang menyaksikan perbuatan Rasulullah itu rasa malu. Rasulullah bukan sahaja tidak marah malah tolong basuhkan pula.
Sahabat-sahabat lain pun terdidik sama dan yang terkencing itu pun turut insaf. Rasulullah tidak marah, dia basuh. Jadi kedua-duanya terdidik. Sahabat menjadi tahu teknik berdakwah, yang terkencing itu insaf.
Sebenarnya Islam itu seni, kalau tidak seni orang tidakkan boleh ikut.
Kisah 3 :
Satu hari Rasulullah bawa duit 2 dirham, baginda ke pasar. Di tengah jalan jumpa budak sedang menangis, rupanya dia adalah hamba pada seorang perempuan. Bila lihat budak itu menangis Rasulullah tanya mengapa.
Budak itu jawab, “Saya dibekalkan oleh tuan saya duit 2 dirham nak beli sesuatu, tapi duit itu dah hilang, itu yang saya takut. Biasanya kalau saya salah kena pukullah”.
Bila mendengarnya Rasulullah pun terus bagi duit pada budak itu. Setelah selesai membeli belah budak itupun balik, di tepi jalan Rasulullah jumpa lagi budak itu menangis lagi.
Lalu Rasullah bertanya, “Mengapa menangis? Bukankah saya sudah beri duit?”
Budak itu menjawab, “Tadi saya menangis kerana hilang duit, yang menangis kali ini kerana saya terlewat nak balik, biasanya kena marahlah”.
Lalu Rasullah berkata, “Kalau begitu tak apalah, saya hantar”.
Lalu Rasulullah pun hantarlah. Bila tuan dia tengok Rasulullah, dia pun malulah hendak marah pada hambanya.
Itulah contoh seni di dalam berdakwah yang dibawa panduan oleh Rasulullah SAW.

Posted & copy by Bersama Kepimpinan Ulama'(poklan58.blogspot) 3.8.13


Islam, Jihad, dan Keganasan



Jihad: salah satu konsep yang paling disalah faham dalam Islam
oleh M. Amir Ali, Ph.D.
"Islam" dan lain-lain pelbagai istilah dan konsep Islam terlalu salah faham di Barat.Islam tidak dapat mencari sesiapa untuk menyalahkan tetapi diri mereka sendiri kerana (a) mereka telah gagal untuk hidup oleh penyewa Islam di zaman kita, dan (b) mereka telah gagal untuk menggalakkan kefahaman Islam di Barat melalui projek-projek jangkauan. Risalah ini merupakan satu cubaan merendah diri untuk menjelaskan secara ringkas terma-terma yang diberikan dalam tajuk. Institut Maklumat & Pendidikan Islam (III & E) telah menerbitkan hampir lima puluh risalah dan beberapa artikel untuk mempromosikan kefahaman Islam di kalangan orang Islam dan bukan Islam sama-sama. Sila menulis kepada III & E atau layari laman web mereka untuk maklumat lanjut.
Beberapa Terma Islam
Islam: bermakna komitmen untuk hidup dengan aman melalui penyerahan kepada kehendak Tuhan (Allah).
Muslim: adalah orang yang membuat komitmen untuk hidup dengan aman melalui penghambaan kepada Allah.
Jihad: bermaksud "perjuangan" dan "berusaha" terhadap pemikiran jahat, tindakan jahat dan pencerobohan terhadap seseorang, keluarga, masyarakat atau negara.Jihad boleh menjadi "perang wajar", meminjam istilah Kristian.
Mujahid: adalah orang yang terlibat dalam Jihad demi Allah mengikut Al-Quran (buku sumber Islam untuk panduan) dan Sunnah (ajaran Nabi Muhammad (saw) Mujahidin adalah jamak dari Mujahid..
"Keganasan Islam": Tiada frasa atau apa-apa tempoh dalam buku sumber Islam Al-Quran atau Sunnah dan tidak mempunyai tempat di dalam Islam.
Sunnah: Sunnah adalah cara yang digemari Nabi Muhammad yang termasuk ajarannya. Sumber-sumber As-Sunnah adalah sahih Hadith (laporan kata-kata, perbuatan dan kelulusan Nabi) koleksi.
Maksud Sebenar "Jihad"
Jihad biasanya dikaitkan dengan Islam dan orang Islam, tetapi pada hakikatnya, konsep Jihad terdapat dalam semua agama termasuk agama Kristian, Yahudi dan ideologi politik / ekonomi, seperti, Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, dan lain-lain Islam mentakrifkan jihad sebagai berusaha dan berjuang untuk penambahbaikan serta berjuang kembali untuk mempertahankan diri sendiri, maruah, harta dan tanah air. Juga, Jihad adalah ditafsirkan sebagai perjuangan menentang kejahatan, dalaman atau luaran seseorang atau masyarakat. Jihad dalam Islam, bermakna melakukan mana-mana atau semua tetapi tidak terhad kepada yang berikut:
Belajar, mengajar, dan mengamalkan Islam dalam semua aspek kehidupan seseorang pada setiap masa untuk mencapai pendidikan yang tertinggi dan terbaik untuk manfaat diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
Menjadi utusan Islam di mana-mana, dalam setiap tingkah laku dan tindakan.
Melawan kejahatan, salah laku, dan ketidakadilan dengan kuasa semua seseorang dengan tangan (tindakan) seseorang, dengan lidah seseorang (ucapan), atau sekurang-kurangnya dengan hati (doa) seseorang.
Menyahut seruan untuk Jihad dengan wang, usaha, kebijaksanaan dan kehidupan, namun, tidak pernah melawan saudara Muslim, sebuah negara Islam, atau masyarakat bukan Islam yang menghormati perjanjian dan tidak menyorokkan reka bentuk agresif terhadap Islam atau orang Islam.
Bunuh diri di bawah mana-mana alasan tidak dibiarkan sebagai Jihad di dalam Islam.
Menukar orang Islam dengan kekerasan atau paksaan tidak pernah Jihad tetapi satu jenayah yang boleh dihukum oleh undang-undang.
Konsep lelaki Islam bergegas keluar untuk membunuh diri sendiri untuk mendapatkan "70 dara menari" di dalam syurga, adalah benar-benar agak bodoh.
Hakikatnya adalah, "ahli Syurga" yang disebut sebagai tulen dan banyak atas apa-apa yang kita boleh bayangkan di bumi, untuk menunjukkan kepada kita mereka sentiasa "dara" dan tidak "menyentuh" ​​oleh lelaki atau syaitan.
Perkataan "kekal dara" walaupun dalam bahasa Inggeris, perlu memberi sesiapa pemahaman ini tidak seperti apa yang kita telah dikenali di bumi.
Tidak ada tersilap makna di dalam bahasa Arab untuk kesucian dan tidak bersalah sahabat ini.
Tahap Jihad
Satu perjuangan peribadi dalam diri seseorang untuk mengemukakan kepada Allah, memerangi kejahatan dalam diri seseorang, mencapai standard yang lebih tinggi moral dan pendidikan - Inner Jihad.
Jihad menentang kejahatan, ketidakadilan dan penindasan dalam diri keluarga, dan masyarakat - Social Jihad.
Jihad terhadap semua yang menghalang umat Islam dari perhambaan kepada Tuhan (Allah), orang-orang dari mengetahui Islam, mempertahankan masyarakat Islam (negara), hukuman terhadap kezaliman, dan / atau apabila orang Islam dikeluarkan dari tanah air mereka dengan kekerasan - Jihad fizikal atau perjuangan bersenjata.
Al-Quran mendefinasikan Jihad fizikal sebagai tahap tertinggi Jihad bahawa seseorang itu boleh melaksanakan. Ganjarannya adalah syurga yang kekal abadi.Islam juga tahu bahawa semua manusia bertanggungjawab untuk apa yang telah mereka lakukan dalam kehidupan mereka di bumi ini. Islam akan ditanya mengenai apa yang mereka lakukan dengan kehidupan mereka dan tahap penyerahan kepada Allah pada hari kiamat.
Adakah Jihad bermakna Perang Suci?
Dalam Islam, tidak ada perkara seperti peperangan suci. Istilah ini telah dijana di Eropah semasa Perang Salib dan perang mereka terhadap umat Islam. Islam mengiktiraf orang-orang Yahudi dan Kristian sebagai "Ahli Kitab" kerana mereka semua mengikuti Nabi Ibrahim, percaya kepada Musa dan Isa 'ajaran. Untuk beberapa abad, umat Islam secara aman wujud bersama dengan Kristian, Yahudi, dan orang-orang agama lain, mengekalkan, perniagaan, perjanjian politik dan ekonomi sosial. Islam menghormati semua manusia dan agama selagi tidak ada penindasan agama, melarang umat Islam daripada berkhidmat Allah, menghalang orang lain daripada belajar tentang Islam, dan tidak menghormati perjanjian. Untuk maklumat lanjut mengenai topik Jihad melihat risalah Jihad Dijelaskan atau permintaan risalah # 18 daripada III & E, penerbit artikel ini.
Yang diberi kuasa untuk memanggil jihad sebagai perang?
Jihad mesti dilakukan mengikut peraturan Islam dan peraturan-peraturan dan hanya untuk kepentingan atau dalam perkhidmatan Allah. Jihad fizikal atau tentera mesti dipanggil oleh pihak berkuasa Muslim, seperti, presiden atau ketua negara Islam selepas rundingan kerana dengan kepimpinan dipelajari.
Apa Adakah Katakanlah Islam mengenai Keganasan?
Istilah "keganasan" tidak wujud dalam Al-Quran atau ajaran Nabi Muhammad. Jika istilah "pengganas atau keganasan" yang berasal dari kata kerja yang digunakan dalam al-Quran, seperti 05:33 yang menerangkan tindakan pengganas "Islam", ia adalah kutukan dan menetapkan hukuman yang paling teruk. Islam adalah agama dan cara hidup yang tidak politik berasingan daripada agama. Islam adalah agama rahmat, perpaduan dan yang paling penting berdamai dengan diri sendiri dan lain-lain, untuk mempertahankan bukan untuk berperang. Allah berfirman di dalam Kitab-Nya Al-Quran:

"Allah tidak melarang kamu daripada menunjukkan kebaikan dan berurusan adil dengan orang-orang yang tidak memerangi kamu tentang agama dan tidak memerangi kamu keluar dari rumah anda, anda perlu berbuat baik dan berlaku adil dengan mereka. Allah mengasihi hanya peniaga." [ Noble Quran 60:8]

"Dan perangilah di jalan Allah terhadap orang-orang yang memerangi kamu, tetapi tidak memulakan pencerobohan, kerana Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas." [Noble Quran 2:190]

"Jika mereka meminta perdamaian, maka mendapatkan anda ketenangan dan kepercayaan kepada Tuhan kerana Dia Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui."[Noble Quran 8:61]

"Dan janganlah kebencian orang lain membuat anda mengelakkan keadilan Jadilah adil itu lebih hampir kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah, kerana sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.". [Noble Quran 5:08]

"Tetapi (ingat bahawa usaha at) siksa jahat boleh juga menjadi jahat: oleh itu sesiapa yang memaafkan (musuh beliau) dan berdamai, maka balasannya terserah kepada Allah; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas." [Al-Quran Mulia 42 : 40]

"Perbuatan yang baik dan perbuatan yang jahat tidak sama. Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka sesungguhnya Dia antara mereka dan kamu ada permusuhan, (akan menjadi) seolah-olah dia adalah seorang sahabat karib. [Al-Quran Mulia 41 : 34]

Antara ajaran Nabi Muhammad saw (Sunnah)
Beliau dilarang tentera Islam dari membunuh wanita, kanak-kanak dan warga tua, atau memotong pokok sawit, dan beliau menasihatkan mereka, "tidak mengkhianati, jangan berlebihan, tidak membunuh anak yang baru lahir."
"Sesiapa yang telah membunuh seorang yang mempunyai perjanjian dengan umat Islam tidak boleh bau aroma syurga, walaupun wangiannya ditemui untuk jangka masa empat puluh tahun."
"Kes pertama yang akan diputuskan di antara manusia pada hari kiamat akan menjadi orang-orang pertumpahan darah." Membunuh adalah dosa utama yang kedua di dalam Islam.
"Sesungguhnya darah, harta anda, dan kehormatan anda dicabul."
"Ada ganjaran untuk kebaikan yang ditunjukkan kepada setiap haiwan hidup atau manusia."
Islam dan Hak Asasi Manusia
Al-Quran dan Sunnah menggalakkan umat Islam untuk menghormati nyawa dan harta benda daripada semua manusia.
Dalam Negara Islam hak ini dianggap suci, sama ada seseorang itu beragama Islam atau tidak.
Islam melindungi kehormatan, melarang orang lain menghina, dan / atau membuat menyeronokkan daripada mereka.
Islam menolak individu-individu tertentu atau negara-negara yang digemari kerana kekayaan mereka, kuasa, dan / atau bangsa.
Semua orang Islam percaya bahawa Allah menciptakan semua manusia bebas dan sama rata, hanya untuk dibezakan antara satu sama lain atas dasar Tuhan-kesedaran atau taqwa dan tidak atas dasar bangsa, warna kulit atau kaum.
Islam adalah agama praktikal yang menghormati semua manusia dan ia diturunkan untuk semua manusia. Mesejnya ialah keamanan dan penyerahan kepada Allah.Umat ​​Islam percaya dalam semua nabi yang disebut dalam Alkitab, dan Al-Quran. Al-Quran berkongsi banyak ajaran moral Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ketiga-tiga agama-agama (dan buku-buku mereka) telah diasaskan pada ayat-ayat oleh Allah Maha Esa, Allah. Untuk maklumat lanjut mengenai topik ini, sila lihat risalah Hak Asasi Manusia Dalam Islam atau meminta risalah # 7 dari III & E, penerbit artikel ini.
Jihad dalam Alkitab
Mari kita lihat apa Alkitab telah mengatakan tentang Jihad dalam pengertian perang dan keganasan. Ayat-ayat berikut adalah dari Bible, New International Version (NIV), 1984
"Jangan benarkan ahli sihir untuk hidup. Sesiapa yang mempunyai hubungan seks dengan haiwan mesti dihukum mati. Sesiapa pengorbanan untuk tuhan yang lain daripada Allah harus dimusnahkan." [Keluaran 22:18-20]
"Ini adalah apa yang TUHAN, Allah Israel, berkata: 'setiap tali seorang lelaki pedang untuk pasukannya Kembali dan sebagainya melalui kem itu dari satu hujung yang lain, masing-masing membunuh saudara dan rakan dan jirannya..' Orang Lewi tidak seperti Musa diperintahkan dan hari itu kira-kira tiga ribu orang mati. "[Keluaran 32:27-28]
"TUHAN berkata kepada Musa, 'Take dendam pada orang Midian untuk Israel. Umat Israel menangkap wanita Midian dan anak-anak dan mengambil semua lembu Midian, ternakan dan barangan sebagai barang rampasan. Mereka membakar semua bandar-bandar di mana orang Midian telah menetap, seperti serta semua kem-kem mereka. (Musa diperintahkan) "Sekarang membunuh semua kanak-kanak lelaki. Dan membunuh setiap wanita yang telah tidur dengan seorang lelaki, tetapi menyelamatkan untuk diri kamu sendiri setiap gadis yang tidak pernah tidur dengan seorang lelaki. "[Nombor 31:1-18]
(Isa berkata) "Tetapi orang-orang musuh saya yang tidak mahu saya untuk menjadi raja atas mereka -. Membawa mereka di sini dan membunuh mereka di depan saya"[Lukas 19:27]
"Dia (Isa) berkata kepada mereka," Tetapi sekarang jika anda mempunyai beg tangan, mengambil, dan juga beg dan jika anda tidak mempunyai pedang, menjual jubah anda dan membeli satu. "[Luke 22:36]
Rawatan Berbeza
Islam mengikuti agama keamanan, rahmat dan pengampunan. Jika seseorang individu Muslim itu untuk melakukan tindakan keganasan, orang ini akan bersalah melanggar penyewa asas Islam.
Apabila Timothy McVeigh mengebom bangunan City Oklahoma, tidak ada Amerika atau Kristian telah dilabelkan sebagai pengganas atau menjadi sasaran jenayah kebencian. Apabila Kristian Irish menjalankan tindakan keganasan terhadap satu sama lain dan di Kepulauan British, agama Kristian tidak dipersalahkan tetapi individu atau agenda politik mereka. Malangnya, perkara yang sama tidak benar untuk orang Islam Amerika dan Arab. Sebahagian besar orang Islam atau orang-orang Arab tidak mempunyai hubungan dengan peristiwa-peristiwa ganas di seluruh dunia belum Islam berdoa dengan keganasan. Adalah tidak adil kepada 1.5 bilion umat Islam di dunia dan agama Islam.
Kriteria bersalah
Yang tidak bersalah sehingga terbukti bersalah di mahkamah terbuka adalah prinsip sejagat yang diterima keadilan bersama-sama dengan kebebasan dan kebebasan untuk semua manusia. Walau bagaimanapun, Amerika Syarikat gagal untuk mengamalkan prinsip yang sama bagi mereka yang tidak merupakan warganegara Amerika Syarikat. Lebih buruk lagi, Amerika Syarikat adalah mewujudkan tribunal tentera untuk ujian rahsia kerana mungkin ada bukti yang tidak mencukupi untuk membuktikan orang-orang Arab dan umat Islam bersalah di mahkamah terbuka.
Semoga Allah memberkati kita semua dan membersihkan hati kita dari semua salah faham, niat jahat, kebencian dan kemarahan.
Posted & copy by Bersama Kepimpinan Ulama'(poklan58.blogspot) 3.8.13 

Apakah Jihad?



Soalan: Apakah Jihad?
Jihad perkataan berasal dari akar bahasa Arab perkataan JHD, yang bermaksud "berusaha."Kata-kata lain yang diperolehi daripada akar ini termasuk "usaha", "pekerja," dan "keletihan."Pada asasnya Jihad adalah satu usaha untuk mengamalkan agama dalam menghadapi penindasan dan penganiayaan. Usaha ini boleh datang dalam memerangi kejahatan di dalam hati anda sendiri, atau berdiri untuk diktator. Usaha tentera dimasukkan sebagai pilihan, tetapi sebagai jalan terakhir dan tidak "untuk menyebarkan Islam dengan pedang" kerana stereotaip akan mempunyai satu percaya.
Jawapan: ". Tandakan satu rakyat dengan cara yang lain" Al-Quran menerangkan Jihadsebagai satu sistem semak dan imbang, sebagai satu cara yang Allah ditubuhkan untukApabila seseorang atau kumpulan melampaui batas had mereka dan melanggar hak orang lain, orang Islam mempunyai hak dan kewajipan untuk "check" mereka dan membawa mereka kembali ke dalam talian. Terdapat beberapa ayat-ayat al-Quran yang menggambarkan jihad dengan cara ini. Satu contoh:
"Dan Allah tidak mendorong setengah manusia menentang yang lain,
bumi memang akan penuh dengan kejahatan;
tetapi Allah Maha kurniaNya kepada sekalian alam "
-Qur'an 2:251
Islam tidak pernah bertolak ansur dengan serangan tanpa provokasi dari pihak sendiri; Islam yang diperintahkan dalam Al-Quran tidak memulakan permusuhan, memulakan apa-apa tindakan agresif, melanggar hak-hak orang lain, atau mencederakan yang tidak bersalah.Malah, mencederakan atau memusnahkan haiwan atau pokok-pokok adalah dilarang. Perang dilancarkan hanya untuk mempertahankan komuniti agama menentang penindasan dan penganiayaan, kerana Al-Quran mengatakan bahawa "penganiayaan adalah lebih buruk daripada pembunuhan" dan "janganlah ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang penindasan amalan" (Al-Quran 2:190 - 193). Oleh itu, jika orang bukan Islam adalah damai atau acuh tak acuh kepada Islam, tidak ada sebab wajar untuk mengisytiharkan perang ke atas mereka.
Al-Quran menggambarkan orang-orang yang dibenarkan untuk melawan:
"Mereka adalah orang-orang yang telah diusir dari rumah mereka
sebarang alasan yang benar, kerana tidak ada sebab melainkan bahawa mereka berkata,
'Tuhan kami ialah Allah.'
Seandainya Allah tidak mendorong setengah manusia menentang yang lain,
, tentulah telah dirobohkan biara, gereja-gereja,
rumah-rumah ibadat dan masjid, di mana nama Allah diperingati
banyak-banyak ... "
-Qur'an 22:40
Perhatikan bahawa ayat ini khusus menyuruh melindungi semua rumah ibadat. Akhirnya, Al-Quran juga mengatakan, "Tidak ada paksaan dalam agama" (2:256). Memaksa seseorang di tempat pedang untuk memilih kematian atau Islam adalah satu idea yang asing kepada Islam dalam semangat dan amalan sejarah. Terdapat sememangnya ada persoalan melancarkan "perang jihad" ke "menyebarkan iman" dan memaksa orang untuk memeluk agama Islam; yang akan menjadi satu perang suci dan memaksa penukaran rakyat tidak akan ikhlas.
Posted & copy by Bersama Kepimpinan Ulama'(poklan58.blogspot) 3.8.13 
http://islam.about.com

Syiah: Bertindak secara ilmu, bukan jadi isu politik



MARANG: Presiden PAS, Datuk Seri Tuan Guru Abdul Hadi Awang menyifatkan tindakan kerajaan dalam menangani isu kontroversi fahaman Syiah lebih bersifat politik.

Katanya, ajaran Syiah itu bukan perkara baru tetapi telah lama wujud sejak beberapa kurun dalam dunia Islam.

Menurutnya, kerajaan pula mengambil sikap bukan hendak menangani masalah ajaran Syiah tetapi hendak jadikan isu politik.

“Kerajaan lebih bersikap untuk menjadikan isu politik, bukan suatu tindakan. Sebenarnya, Syiah telah wujud sejak beberapa kurun dalam dunia Islam dan bukan perkara baru.

“Seperti mazhab-mazhab lain juga dan kita tidak menafikan bahawa ajaran Syiah ini tidak sesuai diamalkan di Malaysia.

“Saya nampak kerajaan bukan hendak tangani tetapi hendak jadi isu politik. Sepatutnya, perbincangan antara mazhab ini hendaklah dilakukan di kalangan ilmuan, ulama yang tahu dalam bidang dia dan bukan mereka yang tak tahu hala bincang tentang mazhab ini,” ujarnya kepada Harakahdaily, hari ini.

Beliau yang juga Ahli Parlimen Marang menjelaskan bahawa berlaku perkembangan mazhab-mazhab dalam dunia Islam ini tidak mudah hendak mengkafirkannya.

Ini kerana, kata beliau, dalam mazhab Syiah tersebut ada yang terkeluar dari Islam dan ada yang masih berpegang dengan ajaran Islam.

Menurutnya, jalan terbaik bagi mencari penyelesaian dalam menangani isu kontroversi Syiah perlu kepada perbincangan tertutup secara akademik dan ilmuan.

“Syiah yang masih lagi dianggap seorang Islam yang dianuti di Iran, di Iraq dan selatan Lubnan. Mereka dibenarkan menunai haji di Mekah kerana ulama-ulama mengatakan mereka juga orang Islam.

“Mereka bersembahyang dan mengerjakan haji tetapi banyak cara beribadat mereka ini cara beribadat yang bercanggah dengan kajian-kajian ahli sunnah.

“Tetapi untuk membetulkan keadaan ini perlukan kepada para ilmuan dan bukan sewenang-wenang. Bahkan, ulama-ulama yang menulis pun dalam bidang ini berbeza dengan ulama yang hidup dalam masyarakat yang ada Syiah.

“Jadi hendak bincang hal Syiah kena ada orang akademik, perbincangan dalaman dan kerajaan mesti bertindak secara ilmu dan bukan bertindak untuk jadikan isu politik,” tegasnya.

Sehubungan itu, beliau mengingatkan umat Islam di sebalik isu Syiah tersebut mempunyai agenda kuasa besar barat terhadap kuasa nuklear di Iran.

Thursday, 1 August 2013

KHOMEINI : AYAT ALLAH ATAU AYAT SYAITAN?



OLEH : MUHAMMAD ASRIE BIN SOBRI

PENGENALAN KEPADA KHOMEINI
Khomeini atau disebut oleh pengikutnya sebagai Ayatullah Ruhullah Khomeini yang membawa maksud Khomeini Ayat dan Ruh Allah.
Khomeini merupakan figur atau tokoh sejarah dunia yang agung dan terkenal kerana dialah pengasas Republik Islam Iran dan berjaya menggulingkan Shah Muhammad Reza Pahlavi pada tahun 1979 M melalui Revolusi Islam Iran.
Khomeini dilahirkan di bandar Khomein yang terletak di arah Barat Daya Tehran, ibu negara Republik Iran pada tahun 1902 M/ 1320 H. Nama sebenarnya Mustafa Ahmad al-Musawi al-Khomeini. Datuknya Ahmad berasal daripada India kemudian berhijrah ke Iran pada tahun 1885 M. Bapanya mati dibunuh setahun setelah kelahirannya dan ketika dia hampir baligh, ibunya meninggal dunia. Dia dibesarkan oleh abangnya dan mendalami ajaran Syiah sehingga menjadi seorang ulama Syiah. Pada  tahun 1965 M, Shah Muhammad Reza Pahlavi telah membuang Khomeini ke Turki kemudian dia meminta izin supaya dibuang ke Iraq lalu mendapat kebenaran Syah dan pemerintah Iraq. Dia tinggal di Iraq selama 15 tahun dan menjadikan Najaf sebagai tempat tinggalnya. Dia tidak melancarkan apa-apa serangan terhadap Syah Iran sehinggalah tahun 1968 M apabila Parti Baath memerintah Iraq. Parti Baath mengalu-alukan para penentang Syah Iran dan Khomeini diberi kedudukan istimewa sehingga dia diberi slot  radio tersendiri untuk mengembangkan idea revolusinya.
Kerajaan Iraq memberikan Khomeini kebebasan dan keistimewaan sehingga permohonannya supaya hukuman mati terhadap Syed Hasan Syirazi ditarik balik turut diperkenan kerajaan Revolusi Iraq. Bahkan Saddam Husein selaku Timbalan Ketua Majlis Revousi Iraq menerima permohonan tersebut.
Kemudian, dia cuba untuk berpindah ke Kuwait setelah kerajaan mengenakan sedikit sekatan ke atasnya tetapi kerajaan Kuwait enggan membenarkan lalu kerajaan Iraq berkenan untuk menerimanya kembali.
Pada tahun 1978 M, Khomeini meninggalkan Iraq lalu pergi ke Paris dan menetap di sana sehinggalah kejatuhan Syah Iran pada tahun 1979 M. Apabila jatuhnya Syah Iran, Muhammad Reza Pahlavi, Khomeini diangkat sebagai pemimpin agung Iran dikenali sebagai (Ruhbar). Pada tahun 1989 M ketika berumur 89 tahun.
AKIDAH KHOMEINI
Khomeini adalah pengikut setia ajaran Syiah Imam Dua Belas atau dikenali juga sebagai Syiah Imamaiah, Syiah Jaafariah, dan al-Rafidah.
Khomeini dalam menjalankan pemerintahan berteraskan bahawa dia adalah wakil kepada Imam al-Hujjah al-Qaim al-Mahdi al-Muntazar, Muhammad bin Hasan al-Askari iaitulah imam Syiah ke-12 yang kononya ghaib dan akan datang semula di akhir zaman. Berikut beberapa pandangan akidah Khomeini :
PERTAMA : WILAYATUL FAQIH
Konsep wilayatul faqih bermaksud, Ruhbar yakni Pemimpin Tertinggi Iran adalah wakil kepada Imam ke-12 yang ghaib dan hendaklah wakil ini daripada kalangan ulama dan maraji’ Syiah.
Konsep ini adalah warisan daripada Dinasti Safawiah iaitulah kerajaan Syiah Iran yang pertama dan sekaligus kerajaan Syiah Imamiah yang pertama di atas muka bumi di mana Syah Ismail al-Safawi mengisytihar dirinya sebagai wakil Imam Ghaib. Akidah ini membolehkan pemerintah yakni al-Faqih tadi berbuat sesuka hati tanpa ditentang kerana menurut Khomeini, al-Faqih ini memiliki Ilmu yang sempurna dan Keadilan yang mutlak. Berkata Khomeini :
لو قام الشخص الحائز لهاتين الخصلتين بتأسيس الحكومة تثبت له نفس الولاية التي كانت ثابتة للرسول الأكرم – صلّى الله عليه وآله وسلّم -، ويجب على جميع النّاس إطاعته
Maksudnya : “jikalau bangun seseorang yang cukup dua perkara ini (ilmu dan adil) dengan mendirikan kerajaan maka sabit baginya kekuasaan yang sama yang sabit bagi Rasul yang paling mulia s.a.w dan wajib atas sekalian manusia mentaatinya”. [al-Hukumah al-Islamiah, 80].
Akidah ini adalah kufur kerana menyamakan ‘kekuasaan’ Faqih dengan ‘kekuasaan’ Rasul sedangkan menurut Islam, pemerintah selepas Rasul itu hanya sama daripada segi tugas bukan kekuasaan kerana Rasul berhak menghalal dan mengharamkan adapun pemerintah hanya memastikan manusia mengikut undang-undang yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.
Melalui konsep ini, Khomeini meletakkan dirinya sama dengan Rasul dan Imam-imam Syiah dalam kekuasaan walaupun tidak sama dari segi kedudukan dan martabat. Oleh itu, terdapat beberapa ulama Syiah sendiri menentang konsep ini.

KEDUA : IMAM SYIAH DAN KEDUDUKAN MEREKA
Berkata Khomeini :
من ضروريات مذهبنا أنه لا يصل أحد إلى مراتب الأئمة – عليهم السّلام – المعنوية. حتى الملك المقرّب، والنّبي المرسل.
Maksudnya : “termasuk perkara daruri mazhab kita (Syiah) bahawa sesungguhnya tidak ada seorang pun yang boleh mencapai martabat Imam-imam ‘alaihimussalam secara maknawi bahkan Malaikat yang hampir dengan Allah dan Nabi yang diutuskan pun (tidak akan sama dengan Imam Syiah)”. [al-Hukumah al-Islamiah, 84].
Menurut Khomeini, Imam-imam syiah adalah lebih hebat daripada Nabi-nabi dan para Rasul serta Malaikat. Akidah ini merupakan akidah umum Syiah Imamiah sebagaimana yang disebut dalam kitab agung mereka Usul al-Kafi :
قال أبو عبد الله » أن عندنا والله سرا من أسرار الله وعلما من علم الله، والله ما يحتمله ملك مقرب ولا نبي مرسل«
Maksudnya : “Berkata Abu Abdullah (yakni Jaafar al-Sadiq) : Sesungguhnya di sisi kami (yakni para Imam Syiah) rahsia daripada rahsia-rahsia Allah dan ilmu daripada ilmu-ilmu Allah, demi Allah, tidaklah dibawa (yakni rahsia dan ilmu ini) malaikat yang dekat (dengan Allah) dan Nabi yang diutuskan (Rasul)”. [al-Kafi, 1/331, Kitab al-Hujjah].
Akidah ini adalah kufur kerana Ahli Sunnah wal Jamaah telah bersepakat mengkafirkan Ibn Arabi al-Sufi apabila dia mengatakan Wali lebih afdal daripada Nabi sedangkan Ahli Sunnah wal Jamaah telah bersepakat : ‘Seorang Nabi lebih afdal (utama) di sisi Allah daripada sekalian wali’[Syarh al-Tahawiah, 1/504 dan selepasnya].
KETIGA : RUBUBIAH PARA IMAM
Akidah Syiah Imamiah percaya Imam mempunyai kuasa sebagaimana kuasa Tuhan dalam mentadbir ‘alam ini. Ini merupakan kekufuran yang lebih daripada kekufuran Abu Lahab dan Abu Jahal. Berkata Khomeini :
إذ للإمام مقامات معنوية مستقلة عن وظيفة الحكومة. وهي مقام الخلافة الكلية الإلهية التي ورد ذكرها على لسان الأئمة – عليهم السّلام – أحياناً. والتي تكون بموجبها جميع ذرات الوجود خاضعة أمام “ولي الأمر”.
Maksudnya : “ini kerana bagi imam itu kedudukan-kedudukan maknawi yang tersendiri terpisah daripada tugasan pentadbiran iaitulah keududukan Khilafah yang menyeluruh bersifat ketuhanan yang sabit penyebutannya daripada Imam-imam dan yang dengannya sekalian zarrah yang wujud tunduk kepada Waliyyul Amri (Imam)”. [Al-Hukumah Al-Islamiah, 84].
Perkataan Khomeini ini merujuk kepada akidah Syiah dalam Kitab al-Kafi :
أَ مَا عَلِمَتْ أَنَّ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةَ لِلْإِمَامِ يَضَعُهَا حَيْثُ يَشَاءُ وَ يَدْفَعُهَا إِلَى مَنْ يَشَاءُ جَائِزٌ لَهُ ذَلِكَ مِنَ اللَّهِ
Maksudnya : “tidakkah engkau tahu bahawa dunia dan akhirat itu untuk Imam, dia mengurusnya sekehendaknya dan dia memberinya kepada sesiapa yang dia hendaki harus baginya daripada Allah”. [Kitab al-Kafi bi Tahqiq al-Majlisi wal Bahbudi, 4/350, m.s 409].
Dalam Biharul Anwar dinyatakan :
عن أبي عبد الله قال « والله لقد أعطينا علم الأولين والآخرين. فقيل له: أعندك علم الغيب؟ فقال له: ويحك! إني لأعلم ما في أصلاب الرجال وأرحام النساء»
Maksudnya : Daripada Abu Abdullah (Jaafar al-Sadiq) katanya : “Demi Allah telah diberi kepada kami (yakni para Imam Syiah) ilmu golongan terdahulu dan terkemudian”. Maka ditanya kepadanya : Adakah kamu mempunyai ilmu ghaib? Maka jawabnya : “Cis kamu! Sesungguhnya aku mengetahui apa yang ada dalam sulbi lelaki dan rahim wanita”. [Bihar al-Anwar, 27/26].
Akidah ini jelas kufur kerana menyandarkan hak tasarruf dalam kerajaan Allah kepada makhluk dan mendakwa ilmu ghaib berada pada makhluk.
 Firman Allah dalam surah al-Kahfi ayat 26 :
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
Maksudnya :“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Allah jua yang mengetahui tentang masa mereka tidur; bagiNya lah tertentu ilmu pengetahuan segala rahsia langit dan bumi; terang sungguh penglihatanNya (terhadap segala-galanya)! tidak ada bagi penduduk langit dan bumi pengurus selain daripadaNya dan Dia tidak menjadikan sesiapapun masuk campur dalam hukumNya” .
Dan firman-Nya dalam surah Luqman ayat 34 :
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Maksudnya : “Sesungguhnya di sisi Allah pengetahuan yang tepat tentang hari kiamat. dan Dia lah jua yang menurunkan hujan, dan yang mengetahui dengan sebenar-benarnya tentang apa yang ada dalam rahim (ibu yang mengandung). dan tiada seseorang pun yang betul mengetahui apa yang akan diusahakannya esok (sama ada baik atau jahat); dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi negeri manakah ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi amat meliputi pengetahuanNya” .
KEEMPAT : KESEMPURNAAN SYARIAT ISLAM
Khomeini berkeyakinan bahawa syariat Islam belum sempurna sehingga datangnya Imam Mahdi yang Ghaib itu. Akidah ini sangat-sangat kufur kerana firman Allah s.w.t :
الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Maksudnya :”pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa (daripada memesongkan kamu) dari agama kamu (setelah mereka melihat perkembangan Islam dan umatnya). sebab itu janganlah kamu takut dan gentar kepada mereka, sebaliknya hendaklah kamu takut dan gentar kepadaKu. pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi agama untuk kamu..”. – [Al-Maidah : 3]
Sedangkan menurut Khomeini :
فكل نبي من الأنبياء إنما جاء لإقامة العدل وكان هدفه هو تطبيقه في العالم، لكنه لم ينجح وحتى خاتم الأنبياء (ص) الذي كان قد جاء لإصلاح البشر وتهذيبهم وتطبيق العدالة فإنه هو أيضا لم يوفق. وإن من سينجح بكل معنى الكلمة ويطبق العدالة في جميع أرجاء العالم هو المهدي المنتظر.
Maksudnya : “Maka setiap Nabi itu datang untuk menegakkan keadilan dan matlamatnya adalah melaksanakannya dalam alam tetapi dia tidak berjaya sehinggakan Penutup sekalian Nabi s.a.w sekalipun yang telah datang untuk memperbaiki keadaan manusia, mendidik mereka, dan menegakkan keadilan tetapi sesungguhnya baginda juga tidak berjaya. Adapun yang akan berjaya dalam usaha ini dan menegakkan keadilan di segenap penjuru alam adalah al-Mahdi al-Muntazar”. [Mukhtarat min Ahadis wa Khutab al-Khomeini, 42].
Ucapan Khomeini amat buruk adabnya dengan Rasulullah s.a.w dan dengan sekalian Nabi dan Rasul serta kufur kepada Allah s.w.t.
KELIMA : KEDUDUKAN SAHABAT DAN SALAF SOLEH
Khomeini memusuhi para sahabat Nabi s.a.w terutama Abu Bakar, Umar, Usman dan Muawiyah radiallahu’anhum. Ini jelas dalam kenyataannya :
بعد رحلة الرّسول الأكرم  صلّى الله عليه وآله وسلّم  لم يسمح المعاندون وبنو أمية لعنهم الله باستقرار الحكومة الإسلامية بولاية علي بن أبي طالب  عليه السلام.لم يسمحوا بتحقق الحكومة التي كانت مرضية عند الله تعالى وعند الرّسول الأكرم  صلّى الله عليه وآله وسلّم  وفي النتيجة بَدَّلوا أساس الحكومة.
Maksudnya : “selepas kewafatan Rasul yang mulia s.a.w para penentang (yakni sahabat) dan Bani Umaiah –semoga mereka dilaknat Allah- tidak membenarkan berdirinya kerajaan Islam di bawah pemerintahan Ali bin Abi Talib a.s. Mereka tidak membenarkan terlaksananya kerjaan yang diredai allah dan Rasul yang mulia s.a.w dan natijahnya mereka mengubah asas kerajaan”. [al-Hukumah al-Islamiah, m.s 60].
Khomeini mencaci Muawiyah r.a dengan katanya :
وهكذا تكون حكومة العدل الإسلامية، فهي ليست كتلك الحكومات التي تسلب الشعب الأمن، وتجعل النّاس يرتجفون في بيوتهم خوفاً من مفاجآتها وأعمالها. كما كان الأمر في حكومة معاوية وأمثالها من الحكومات، حيث سلب النّاس الأمن
Maksudnya : “dan demikianlah kerajaan Islam yang adil, maka ia tidak sama dengan kerajaan-kerajaan yang mencabut keamanan rakyat dan menjadikan mereka takut berada dalam rumah mereka sendiri daripada serangan pegawai-pegawai kerajaan seperti kerajaan Muawiyah dan yang seumpamanya daripada kerajaa-kerajaan yang menghilangkan keamanan rakyat”. [Ibid, m.s 111].
Akidah ini merupakan akidah seluruh orang Syiah Imamiah sebagaimana tertera dalam kitab mereka :
إنَّ أبا بكر وعمر كانا كافرين , الذي يحبهما فهو كافر أيضاً
Maksudnya : “sesungguhnya Abu Bakar dan Umar adalah kafir, orang yang mencintai keduanya adalah kafir juga”. [al-Majlisi, Haqqul Yaqin, m.s 522].
Akidah Syiah Imamiah ini adalah kufur kerana Allah s.w.t telah berfirman :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Maksudnya : dan orang-orang yang terdahulu – yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang “Muhajirin” dan “Ansar”, dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat), Allah reda akan mereka dan mereka pula reda akan Dia, serta ia menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar. [al-Taubah :100].
Dengan jelas dalam ayat ini Allah s.w.t meredai sahabat, demikian juga dalam ayat-ayat lain yang banyak. Baginda Rasul s.a.w juga bersabda :
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
Maksudnya : “Janganlah kamu mencela sahabat-sahabatku kerana sesungguhnya jika seorang daripada kamu menginfakkan emas sebesar Uhud sekalipun tidak akan sama kedudukannya dengan sedekah para sahabatku sebanyak satu cupak dan tidak juga setengah daripadanya”. [al-Bukhari & Muslim].
Begitu juga Sabda Nabi s.a.w :
أبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ ، وَطَلْحَةُ في الْجَنَّةِ ، وَالزُّبَيْرُ في الْجَنَّةِ ، وعَبْدُ الرَّحْمَانِ بْنُ عَوْفٍ في الْجَنَةِ ، وَسَعْدُ بْنُ أبي وَقَّاصٍ فِي الْجَنَّةِ ، وَسَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ بْنِ عَمْرٍ فِي الْجَنَّةِ ، وأبو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِيَ الْجَنَّةِ.
Maksudnya : “Abu Bakar dalam syurga, Umar dalam Syurga, Usman dalam syurga, ali dalam syurga, Talhah dalam syurga, al-Zubair dalam syurga, Abdul Rahman bin Auf dalam syurga, Saad bin Abi Waqqas dalam syurga, said bin Zaid dalam syurga, Abu Ubadidah al-Jarah dalam syurga”. [Ahmad, al-Tarmizi, al-Nasai dalam Kubra, dan Abu Daud dengan jalan daripada Said bin Zaid].
Sabda Nabi s.a.w kepada Muawiyah r.a :
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا , وَاهْدِ بِهِ
Maksudnya : “Ya Allah, jadikanlah dia (yakni Muawiyah) sebagai yang memberi pembimbing kepada kebenaran, diberi bimbingan ke arah kebenaran, dan jadikanlah dia sebagai penyebab hidayah”. [Ahmad & al-Tarmizi].
Ayat dan hadis-hadis ini menjadi bukti bahawa Syiah Imamiah dan Khomeini mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Mereka telah mengikuti jejak langkah para Munafik dalam membenci sahabat radiallahu’anhum.
KEENAM : SIAPAKAH TUHAN KHOMEINI?
Ini adalah persoalan terpenting dalam akidah Khomeini iaitu siapakah Tuhan yang disembah Khomeini? Khomeini menjawab :
” إننا لا نعبد إلهاً يقيم بناء شامخا للعبادة والعدالة والتدين ، ثم يقوم بهدمه بنفسه ، ويجلس يزيداً ومعاوية وعثمان وسواهم من العتاة في مواقع الإمارة على الناس ، ولا يقوم بتقرير مصير الأمة بعد وفاة نبيه ”
Maksudnya : “Sesungguhnya kami (Syiah Imamiah) tidak menyembah Tuhan yang mendirikan bangunan yang hebat untuk ibadah, keadilan, dan bergama (yakni Islam) kemudian Dia memusnhakannya dengan sendiri dan mendudukkan Yazid (anak Muawiyah), Muawiyah, Usman, dan selain mereka daripada penzalim di atas kerajaan manusia dan tidak menetapkan hala tuju umat kewafatan Nabi-Nya”.[Kasyful Asrar, m.s 123 & 124].
Maka jelas tuhan Khomeini bukanlah Allah s.w.t tetapi tuhan yang wujud dalam khayalannya sendiri. Realiti telah menyatakan bahawa Usman r.a, Muawiyah r.a dan Yazid r.h telah pun menjadi Khalifah dan memerintah, begitu juga Bani Umayyah dan Abbasiah. Kejadian ini berlaku di bumi kita ini dalam alam ini. Menurut akidah kaum muslimin, semua kejadian dalam alam ini berlaku dengan kehendak dan izin Allah s.w.t. Maka, jika Khomeini hendak menyembah Tuhan yang tidak melantik Usman r.a, Muawiyah r.a dan lainnya sebagai khalifah, tidak ada jalan lain bagi Khomeini kecuali dengan menyembah selain Allah…!! Demikian juga dengan jelas Khomeini mencela Saidina Usman bin Affan r.a dan Muawiyah r.a sedangkan kedua-duanya adalah sahabat besar Rasulullah s.a.w. Usman adalah menantu Rasulullah dan Muawiyah adalah ipar Rasulullah sehingga digelar Khalul Mukminin (Bapa Saudara Orang-orang Beriman).
KETUJUH : KHOMEINI DAN AL-QUR’AN
Khomeini Laknatullahi ‘alaih telah menuduh para sahabat radiallahu’amhum mengubah al-Qur’an. Katanya :

Maksudnya : “Jikalau masalah Imamah telah sabit dalam al-Qur’an maka sesungguhnya mereka ini yang tidak mengambil berat akan Islam dan al-Qur’an kecuali dengan tujuan keduniaan dan kepimpinan adalah mereka ini menjadikan al-Qur’an sebagai jalan untuk melaksanakan tujuan mereka yang mencurigakan dan mereka menghilangkan ayat-ayat dari mushafnya dan menggugurkan al-Qur’an daripada pandangan dunia selama-lamanya dan mengaibkan al-Qur’an dan kaum muslimin selama-lamanya dan dengan itu menisbahkan keaiban yang sama dihukum ke atas kitab-kitab Yahudi dan Nasrani kepada kaum muslimin” [Kasyful Asrar, m.s 132].
Khomeini cuba menyatakan bahawa jikalau Allah s.w.t menyatakan dalam al-Qur’an sekalipun bahawa Ali r.a adalah Khalifah selepas Rasulullah s.a.w tentulah para sahabat akan menghilangkan ayat-ayat tersebut. Tuduhan ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin para sahabat yang menjadi kepercayaan Rasulullah s.a.w sanggup melakukan hal yang terkutuk ini? Dan mana mungkin al-Qur’an yang dipelihara oleh Allah s.w.t sendiri mampu diubah? !! Allah s.w.t berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Maksudnya : “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan Kamilah yang memelihara dan menjaganya.” [al-Hijr : 9].
Apakah Allah s.w.t cuai dalam menjaga al-Qur’an sehingga akan ada yang mampu mengubahnya?!
Golongan Syiah cuba menafikan akidah mereka bahawa al-Qur’an diubah tetapi perkataan Khomeini ini sangat jelas bahawa dia mengiktiraf tidak mustahil berklakunya pengubahan al-Qur’an daripada Khulafa’ yang tiga dan Muawiyah radiallahu’anhum. Demikian Khomeini mengiktiraf doa Sonamai Quraish yang dibaca Syiah dalam solat mereka untuk melaknat Abu Bakar dan Umar radiallahu’anhuma dan di dalam doa itu sangat jelas menyatakan Abu Bakar dan Umar mengubah al-Qur’an. [Lihat Kitab Iksir ad-Da'awat].
KELAPAN : SYIRIK MENURUT KHOMEINI
Khomeini dalam kitanbya beranggapan memohon doa kepada mayat dan menyeru roh si mati adalah tidak syirik :

Maksudnya : “dan selepas jelas bahawa syirik itu apabila menminta sesuatu kepada selain Tuhan sekalian ‘alam di atas asas benda yang diminta itu adalah sembahan maka jika selain asas ini tidaklah syirik (yakni meminta kepada makhluk tanpa iktikad makhluk itu Tuhan tidaklah syirik) dan tidak ada bezanya (tempat meminta itu) hidup atau mati. Maka meminta hajat kepada batu kecil atau besar bukanlah syirik sekalipun ianya amalan batil. Kemudian jika kita meminta pertolongan daripada ruh-ruh suci daripada kalabgan nabi-nabi dan imam-imam yang mana mereka ini diberi qudrat oleh Allah (maka ini bukanlah syirik)”. [Kasyful Asrar, m.s 49].
Demi Allah, kami bersaksi bahawa kalam ini serupa sekali dengan perkataan orang-orang Tasawuf tertutama Tariqat Naqsyabandiah Khalidiah . Maka, dengan akidah ini Khomeini menafikan Abu Lahab, Abu Jahal dan seluruh musyrikin Qurasih adalah syirik. Ini kerana musyrikin Quraish bukanlah meminta kepada Lata dan Uzza kerana keduanya Tuhan tetapi sebagai wasilah (perantara) antara mereka dengan Tuhan sahaja.  Firman Allah s.w.t surah al-Zumar ayat ke-3 :
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
Maksudnya : “dan orang-orang musyrik yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi Pelindung dan Penolong (sambil berkata): “kami tidak menyembah atau memujanya melainkan supaya mereka mendampingkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya”.
Golongan ini menurut Khomeini tidaklah syirik tetapi Allah berkata :
 إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Maksudnya :  “Sesungguhnya Allah akan menghukum di antara mereka (dengan orang-orang yang tidak melakukan syirik) tentang apa yang mereka berselisihan padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang tetap berdusta (mengatakan yang bukan-bukan), lagi sentiasa kufur (dengan melakukan syirik)”.
Jelas Allah menghukum mereka sebagai Syirik Akbar (syirik besar) yang meletakkan mereka sebagai golongan Kufur.
Siapakah Khomeini sehingga dia berani memberikan hukum yang berbeza dengan hukum Allah s.w.t?!!  Sedangkan Khomeini berani berkata Abu Bakar r.a dan Umar r.a telah menyalahi al-Qur’an maka sekarang siapa yang sebenarnya menentang al-Qur’an?!! [Lihat Kasyful Asrar, m.s. 131-135]. Laknat Allah ke atas Khomeini dan yang seumpamanya!!Amin.
KESEMBILAN : PANDANGAN KHOMEINI TERHADAP AHLI SUNNAH
Khomeini berdusta apabila kononnya dia menyeru kepada kesatuan Islam kerana dia mengkafirkan selain Syiah Imamiah :
وأما النواصب والخوارج لعنهم الله تعالى فهما نجسان من غير توقف ذلك على جحودهما الراجع إلى إنكار الرسالة
Maksudnya : “adapun Nawasib dan Khawarij Laknat Allah atas mereka maka keduanya adalah najis tanpa teragak-agak lagi kerana keingkaran mereka (terhadap Imamah Ali) yang membawa kepada keinkaran Risalah (Rasulullah s.a.w)”. [Tahrir al-Wasilah, 118].
Pandangan Khomeini ini berdasarkan akidah Syiah Imamiah bahawa selain Imami adalah kafir :
واتفقت الإمامية على أن أصحاب البدع كلهم كفار
Maksudnya : “dan telah bersepakat Imamiah bahawa semua ahli bidaah adalah kafir”. [Awail al-Maqalat, m.s 49].
Maka, sebodoh-bodoh makhluk adalah mereka yang mengajak kepada mendekatkan mazhab Ahli Sunnah dengan Syiah atau yang disebut sebagai al-Taqrib. Kita boleh mencampurkan air mineral dengan air sirap tetapi kita tidak boleh mencampur air dengan minyak..Fahamilah!.

PENUTUP
KEDUDUKAN KHOMEINI DALAM SYARIAT :
Perkataan-perkataan Khomeini adalah zahir kufur dan zindiq dan diketahui Khomeini mati dalam akidahnya ini serta tidak pernah kembali bertaubat walaupun telah ditegakkan hujah. Oleh itu, hukum yang layak kepada Khomeini adalah dia kafir kepada Allah s.w.t kerana mencerca sahabat dan menghina Syariat serta merendah-rendahkan Allah s.w.t dan tidak mengkafirkan mereka yang dinyatakan kafir oleh Allah s.w.t dalam al-Qur’an. [Fatwa ini sama dengan fatwa Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albany r.h bertarikh 26/12/1407 H bersamaan 22 Ogos 1987 M.].